<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4798153163355951197</id><updated>2011-09-29T01:27:33.609+07:00</updated><category term='Tawassul'/><category term='Hadits'/><category term='Ramadhan'/><category term='Jihad'/><category term='Hadits Dha&apos;if'/><category term='Pasang MP3 Qur&apos;an'/><category term='sembelihan'/><category term='Ahlul bait'/><category term='Fi sabilillah'/><category term='Al-aqidah al Wasithiyah'/><category term='Wudhu'/><category term='Bulughul maram'/><category term='Sifat-Sifat Allah'/><category term='Thoghut'/><category term='Tauhid'/><category term='Murotal'/><category term='Syirik'/><category term='karomah'/><category term='Ibadah'/><category term='Tarawih'/><category term='Sholat'/><category term='Makanan'/><category term='I&apos;tikaf'/><category term='Manhaj'/><category term='Video sholat'/><category term='Hadits Masyhur'/><category term='Tayamum'/><category term='Video'/><category term='Syiah'/><title type='text'>Belajar Islam Pras Blogspot</title><subtitle type='html'>Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.       

Qs. 4 : 80</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Pras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03566193034142952335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TF--X6RfBvI/AAAAAAAAAEw/EtWZt7Mav7Q/S220/IMG0053A.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>23</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4798153163355951197.post-4534765289832286655</id><published>2010-12-29T14:22:00.002+07:00</published><updated>2010-12-29T14:22:28.867+07:00</updated><title type='text'>Adakah Anjuran Memperlama Sujud Terakhir untuk Berdo’a?</title><content type='html'>&lt;em&gt;Segala puji bagi Allah, pemberi segala nikmat. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kita ketahui bersama bahwa do’a ketika sujud adalah waktu terbaik untuk berdo’a. Seperti disebutkan dalam hadits,&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ&lt;/div&gt;“&lt;em&gt;Y&lt;/em&gt;&lt;em&gt;ang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah do’a ketika itu&lt;/em&gt;.” (HR. Muslim no. 482, dari Abu Hurairah)&lt;br /&gt;Namun seringkali kita lihat di lapangan, sebagian orang malah  seringnya memperlama sujud terakhir ketika shalat, tujuannya adalah agar  memperbanyak do’a ketika itu. Apakah benar bahwa saat sujud terakhir  mesti demikian? Semoga sajian singkat ini bermanfaat.&lt;br /&gt;Al Baro’ bin ‘Azib mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;كَانَ رُكُوعُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه  وسلم – وَسُجُودُهُ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ وَبَيْنَ  السَّجْدَتَيْنِ قَرِيبًا مِنَ السَّوَاءِ&lt;/div&gt;“&lt;em&gt;Ruku’, sujud, bangkit dari ruku’ (i’tidal), dan duduk antara dua  sujud yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, semuanya  hampir sama (lama dan thuma’ninahnya)&lt;/em&gt;.” (HR. Bukhari no. 801 dan Muslim no. 471)&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin pernah ditanya,&lt;br /&gt;“Apakah diperkenankan memperpanjang sujud terakhir dari rukun shalat  lainnya, di dalamnya seseorang memperbanyak do’a dan istighfar? Apakah  shalat menjadi cacat jika seseorang memperlama sujud terakhir?”&lt;br /&gt;Beliau &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt; menjawab,&lt;br /&gt;“Memperpanjang sujud terakhir ketika shalat bukanlah termasuk sunnah Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt;.  Karena yang disunnahkan &amp;nbsp;adalah seseorang melakukan shalat antara  ruku’, bangkit dari ruku’ (i’tidal), sujud dan duduk antara dua sujud  itu hampir sama lamanya.&amp;nbsp; Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam hadits  Baro’ bin ‘Azib, ia berkata, “&lt;em&gt;Aku pernah shalat bersama Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku mendapati bahwa berdiri, ruku’,  sujud, duduk beliau sebelum salam dan berpaling, semuanya hampir sama  (lamanya)&lt;/em&gt;. ” Inilah yang afdhol. Akan tetapi ada tempat do’a selain sujud yaitu setelah tasyahud (sebelum salam). Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;/em&gt; ketika mengajarkan ‘Abdullah bin Mas’ud tasyahud, beliau bersabda, “&lt;em&gt;Kemudian setelah tasyahud, terserah padamu berdo’a dengan doa apa saja&lt;/em&gt;”.  Maka berdo’alah ketika itu sedikit atau pun lama setelah tasyahud akhir  sebelum salam. (Fatawa Nur ‘ala Ad Darb, kaset no. 376, side B)&lt;br /&gt;Dalam Fatawa Al Islamiyah (1/258), Syaikh ‘Abdullah Al Jibrin &lt;em&gt;rahimahullah&lt;/em&gt;  berkata, “Aku tidak mengetahui adanya dalil yang menyebutkan untuk  memperlama sujud terakhir dalam shalat. Yang disebutkan dalam berbagai  hadits, rukun shalat atau keadaan lainnya itu hampir sama lamanya.”&lt;br /&gt;Syaikh ‘Abdullah Al Jibrin &lt;em&gt;rahimahullah &lt;/em&gt;juga menjelaskan,  “Aku tidak mengetahui adanya dalil yang menganjurkan untuk memperlama  sujud terakhir dalam shalat. Akan tetapi, memang sebagian imam melakukan  seperti ini sebagai isyarat pada makmum bahwa ketika itu adalah raka’at  terakhir atau ketika itu adalah amalan terkahir dalam shalat.  Karenanya, mereka pun memperpanjang sujud ketika itu. Dari sinilah,  mereka maksudkan agar para jama’ah tahu bahwa setelah itu adalah duduk  terakhir yaitu duduk tasyahud akhir. Namun alasan semacam ini tidaklah  menjadi sebab dianjurkan memperpanjang sujud terakhir ketika itu.”  (Fatawa Syaikh Ibnu Jibrin, Ahkam Qoth’ush Sholah, Fatawan no. 2046 dari  website beliau)&lt;br /&gt;Dari penjelasan singkat ini, nampaklah bahwa tidak ada anjuran untuk  memperlama sujud terakhir ketika shalat agar bisa memperbanyak do’a  ketika itu. Yang tepat, hendaklah gerakan rukun yang ada sama atau  hampir sama lamanya dan thuma’ninahnya. Silakan membaca do’a ketika  sujud terakhir, namun hendaknya lamanya hampir sama dengan sujud  sebelumnya atau sama dengan rukun lainnya. Apalagi jika imam sudah  selesai dari sujud terkahir dan sedang tasyahud, maka selaku makmum  hendaklah mengikuti imam ketika itu. Karena imam tentu saja diangkat  untuk diikuti. Nabi &lt;em&gt;shallallahu ‘alaihi&amp;nbsp; wa sallam&lt;/em&gt; bersabda,&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلاَ تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ&lt;/div&gt;“&lt;em&gt;Imam itu diangkat untuk diikuti, maka janganlah diselisihi.&lt;/em&gt;” (HR. Bukhari no. 722, dari Abu Hurairah)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hanya Allah yang memberi taufik.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Referensi&lt;/strong&gt;: Website Syaikh Sholih Al Munajid – Al Islam Sual wa Jawab (&lt;a href="http://islamqa.com/ar/ref/111889/"&gt;http://islamqa.com/ar/ref/111889/&lt;/a&gt; )&lt;br /&gt;Panggang, GK, 8 Rajab 1431 H, 21/06/2010&lt;br /&gt;Penulis: &lt;a href="http://rumaysho.com/"&gt;Muhammad Abduh Tuasikal&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Artikel &lt;a href="http://muslim.or.id/"&gt;www.muslim.or.id&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4798153163355951197-4534765289832286655?l=belajarislam-pras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/feeds/4534765289832286655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4798153163355951197&amp;postID=4534765289832286655&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/4534765289832286655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/4534765289832286655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/2010/12/adakah-anjuran-memperlama-sujud.html' title='Adakah Anjuran Memperlama Sujud Terakhir untuk Berdo’a?'/><author><name>Pras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03566193034142952335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TF--X6RfBvI/AAAAAAAAAEw/EtWZt7Mav7Q/S220/IMG0053A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4798153163355951197.post-6654492784015214237</id><published>2010-12-29T14:17:00.000+07:00</published><updated>2010-12-29T14:17:14.373+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jihad'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fi sabilillah'/><title type='text'>RAHASIA YANG HARUS DIKETAHUI KAUM MUSLIMIN</title><content type='html'>Oleh&lt;br /&gt;Ustadz Abu Qotadah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَوْ شِئْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَّذِيرًا  فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُم بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan andaikata Kami menghendaki, benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap  negeri seorang yang memberi peringatan (rasul) Maka janganlah kamu  mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al  Qur`an dengan jihad yang besar". [Al Furqon : 51-52]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat ini dikategorikan sebagai surat Makkiyah, yaitu turun ketika Nabi n  masih di Mekkah. Rahasia pertama ayat ini menunjukkan, bahwa makna  jihad dalam ayat ini ialah jihad dengan menegakkan hujjah dan  argumentasi terhadap orang kafir, yakni dengan menyampaikan Al Qur`an,  sebagaimana berjihad melawan orang munafik hanyalah dengan menegakkan  hujjah, menunjukkan kepada kebenaran dan membantah kebatilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun rahasia yang kedua, bahwa Allah memerintahkan jihad (berperang  dengan pedang dan kekuatan) melawan orang-orang kafir, yaitu setelah  Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat memiliki  syarat-syarat untuk menegakkan jihad. Oleh sebab itu, Nabi Shallallahu  'alaihi wa sallam dan para sahabat tidak diperintahkan berjihad ketika  Beliau di Mekkah, karena saat itu mereka berada di bawah kekuasaan  musuh. Dan setelah Beliau di Madinah dan telah memiliki persiapan untuk  berperang, maka syariat berjihad diperintahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah wahai kaum muslimin, semoga Allah senantiasa merahmati kita.  Tidak mungkin kaum Muslimin bisa memerangi orang kafir, kecuali dengan  persiapan dan senjata. Sebagai pelajaran, Allah telah menjelaskan  keberadaan orang-orang munafik yang enggan berangkat berperang, sehingga  mereka tidak mengadakan persiapan. Allah berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَوْ أَرَادُوا الْخُرُوجَ لأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِن كَرِهَ اللهُ  انبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan  untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan  mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada  mereka: "Tinggallah kamu bersama orang-oang yang tinggal itu”. [At  Taubah : 46].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Allah memerintahkan kepada para mujahidin agar mengadakan persiapan perang. Allah berfirman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَعِدُّوا لَهُم مَّااسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللهِ ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu  sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan  persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah ……" [Al Anfal : 60]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah, orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nasrani atau yang  lainnya, mereka akan senantiasa meneror dan membikin makar terhadap kaum  muslimin dari dua sisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Teror pemikiran (irhab fikri). Yaitu usaha orang-orang kafir  untuk menggelincirkan kaum Muslimin dari kemurnian ajaran agama yang haq  ini. Mereka melontarkan syubhat-syubhat, tadlis (pemalsuan), talbis  (kerancuan), sehingga bisa menumbuhkan sikap keragu-raguan kaum muslimin  terhadap kebenaran ajaran Islam. Program ini dikemas dengan dukungan  dana yang dikucurkan kepada kalangan ahli bid’ah yang telah menyeru  manusia ke jurang api neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyempurnakan programnya ini, mereka menempuh berbagai cara. Di antaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pertukaran pelajar, sebagai sarana pencucian otak anak-anak kaum  Muslimin. Sehingga setelah pelajar-pelajar Islam ini pulang, akan  menjadi pion mempropagandakan syubhat-syubhat.&lt;br /&gt;2. Orientalis, dari sinilah musuh-musuh Allah melakukan gerakan-gerakan  tersembunyi dengan dalil riset dan penelitian ilmiyah. Para orientalis  tersebut bekerja untuk kepentingan intelejen Kristen dan Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua : Teror fisik (irhab jasadi). Yaitu usaha orang-orang kafir untuk  membunuh kaum Muslimin, menguasai negara-negara Islam, menguasai  perekonomian kaum Muslimin serta menjajah negara-negara Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka menjadi kewajiban kaum Muslimin untuk melakukan persiapan agar  mampu menegakkan tugas jihad ini, sehingga kaum Muslimin bisa mencapai  kejayaan. Karena telah menjadi ketentuan Allah, bahwa segala akibat ada  sebabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai kaum muslimin, semoga Allah merahmati kita. Kita memiliki  keinginan yang sama untuk menegakan panji jihad dan menegakkan  panji-panji Allah di muka bumi dan merindukan kemenangan. Untuk  mengemban tugas ini, Allah telah mensyaratkan bagi kita dua hal.  Barangsiapa yang dapat memenuhinya, maka ia akan sampai kepada apa yang  diinginkannya. Kedua syarat tersebut ialah : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama :  Al  i’dad al imani (mempersiapan kekuatan iman), hal itu  karena Allah telah memberikan jaminan kemenangan bagi ahli iman. &lt;br /&gt;Kedua : Al i’dad al madi (mempersiapkan perbekalan materiil), meliputi  mempersiapan perlengkapan senjata dan sejenisnya, yang merupakan syarat  penting untuk melawan mereka. Allah berfirman, yang artinya: "Dan  persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu  sanggupi dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang yang dengan  persiapan itu kamu menggentarkan musuh Allah". [Al Anfal 60].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dua syarat ini, al i‘dad al imani harus lebih didahulukan daripada  al i’dad al madi. Rasul yang mulia telah menempuh jalan ini dan telah  menyempurnakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TENTANG AL I‘DAD AL IMANI&lt;br /&gt;Al i’dad al imani adalah takwa kepada Allah. Takwa  merupakan persiapan  pertama dan utama, karena Allah telah menjanjikan kemenangan, dan akan  memberikan pertolongan hanya kepada orang-orang yang bertakwa. Allah  berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاَةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لاَنَسْئَلُكَ رِزْقًا نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah  kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah  yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi  orang yang bertakwa". [Thaha:132]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللهِ وَاصْبِرُوا إِنَّ اْلأَرْضَ  للهِ يُورِثُهَا مَن يَّشَآءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ  لِلْمُتَّقِينَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Musa berkata kepada kaumnya: "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan  bersabarlah; dipusakakanNya kepada siapa yang dikehendakiNya dari  hamba-hambaNya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang  bertakwa". [Al ‘A’raf:128] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan" [An Nahl:128].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rukun Takwa&lt;br /&gt;Rukun takwa ada tiga. Pertama, al ikhlash (tauhid) memurnikan ibadah  hanya kepada Allah. Kedua, al ittiba’ (mengikuti Rasulullah). Ketiga,  ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan pentingnya dan keutamaan ikhlas (tauhid) ini, Nabi  Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mendiamkan pelanggaran terhadap  tauhid, meskipun dalam peperangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At Tirmidzi telah meriwayatkan dari sahabat Abi Waqid Al Laitsi, ia  berkata: Suatu saat kami pergi bersama Rasulallah ke Hunain, sedangkan  kami dalam keadaan baru lepas dari kekafiran (baru masuk Islam). Ketika  itu orang-orang kafir musyrikin mempunyai sebatang pohon bidara yang  disebut Dzatu Anwath. Mereka selalu mendatanginya dan menggantung  senjata-senjatanya pada pohon itu. Tatkala kami melewati sebatang pohon  bidara, kamipun berkata: “Wahai Rasulullah! Buatkan untuk kami Dzat  Anwath,” maka Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا  كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ  مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allahu Akbar. Itu adalah tradisi (orang-orang sebelum kamu). Demi  Allah, yang diriku berada di tanganNya. Kamu benar-benar telah  mengatakan sesuatu perkataan seperti yang telah dikatakan Bani Israil  kepada Musa,”Buatlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka itu  mempunyai sembahan”. Musa menjawab,”Sesungguhnya kamu adalah orang-orang  yang tidak mengerti. Pasti kamu akan mengikuti tradisi orang-orang  sebelummu”. [HR Tirmidzi].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya para aktifis pergerakan dan juru dakwah saat ini mencermati  kandungan dan rahasia yang terdapat dalam hadits ini, tentulah mereka  tidak akan meremehkan perkara tauhid dengan alasan ingin mendapatkan  jumlah pendukung yang banyak dan menyatukan kaum Muslimin. Lihatlah, apa  yang diperbuat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ; Beliau tidak  berdiam diri untuk tidak mengingkari kemusyrikan karena ingin  mempertahankan jumlah yang banyak, atau alasan khawatir akan terjadi  perpecahan. Sebab Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang mulia  mengetahui, seandainya orang-orang yang baru masuk Islam itu didiamkan  dalam keadaan musyrik, tentulah mereka akan menjadi fitnah bagi kaum  Muslimin, dan menjadi penyebab utama kekalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Mengajarkan Tauhid Dalam Jihad Difa’&lt;br /&gt;Saat itu kaum Muslimin di Syam sedang dalam cengkeraman orang-orang  Tartar yang begitu kuat. Kaum Muslimin pun bangkit melancarkan jihad  difa’ (defensive), sementara itu kesyirikan berada di tengah-tengah  mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan seperti ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah memulai dengan  terlebih dahulu meluruskan aqidah ummat, menyeru kepada tauhid. Beliau  rahimahullah menulis sebuah buku yang berjudul Talkhish Kitab  lstigatsah, dimaksudkan sebagai bantahan terhadap Al Bakri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam berkata: “Seandainya mereka yang beristigatsah dengan  selain Allah (yaitu penghuni-penghuni) kubur bersamamu dalam barisan  perang, tentulah engkau akan mendapatkan kekalahan, sebagaimana kaum  Muslimin mendapatkan kekalahan dalam perang Uhud”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Syaikhul Islam lbnu Taimiyah ini mengandung dua faidah yang  besar. Pertama. Wajib dan betapa pentingnya meluruskan aqidah kaum  Muslimin yang hendak berjihad. Kedua. Menunjukkan kefaqihan beliau  rahimahullah, karena beliau telah berdalil untuk perkara yang besar  dengan perkara yang rendah. Maksudnya, apabila kekalahan kaum muslimin  dalam perang Uhud disebabkan maksiat semata dan bukan karena syirik,  maka bagaimana mungkin kaum Muslimin pada hari ini mampu berperang  mengalahkan musuh, seandainya di dalam barisan kaum Muslimin terdapat  orang-orang yang menyekutukan Allah, melakukan bid’ah dan perbuatan  maksiat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah, kemenangan dan pertolongan hanya diberikan kepada orang-orang  yang bertauhid dan mengamalkan Sunnah. Allah Subhanahu wa Ta'ala  berfirman : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ  لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي اْلأَرْضِ كَمَااسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن  قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ  وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي  لاَيُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ  الْفَاسِقُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu  dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan  menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi  mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar  akan merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan  menjadi aman sentausa.Mereka tetap menyembahKu dengan tiada  mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap)  kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang yang fasik". [An Nur  : 55].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, setelah kaum  muslimin meluruskan aqidah mereka dengan mengikhlaskan ibadah hanya  kepada Allah, hanya beristighatsah kepada Allah, maka Allah akan  menolong mereka untuk mengalahkan musuh, sehingga mereka mendapatkan  berbagai kemenangan dalam peperangan (melawan Tartar); suatu kemenangan  yang tidak pernah didapatkan sebelumnya, kecuali setelah mereka  memurnikan tauhid kepada Allah dan taat kepada RasulNya. Karena  sesungguhnya Allah akan memberikan pertolongan kepada RasulNya dan  orang-orang beriman di dunia dan di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kisah perang Uhud, kita dapat mengambil pelajaran berharga  berkaitan dengan sebab-sebab kekalahan kaum Muslimin pada waktu itu.  (Lihat surat Ali Imran ayat l37-l54).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ (وفي رواية  -  يُقَاتِلُونَ  ) عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى  يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ كَذَلِكَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Senantiasa ada dari umatku sekelompok orang yang menegakkan kebenaran  (dalam hadits lain dengan kata mereka berperang di atas kebenaran),  tidak merugikannya orang yang menghinanya sampai datang hari kiamat, dan  mereka tetap dalam keadaan demikian hingga kiamat datang". [HR Muslim].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Derajat Yang Tinggi Hanya Dapat Diraih Dengan Ilmu&lt;br /&gt;Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu  dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat". [Al  Mujadilah : 11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Imam Muhammad Amin Asy Syinqiti berkata: “Para ulama telah  menjelaskan, kemenangan para nabi ada dua macam. Pertama. Kemenangan  melalui hujjah dan argumentasi. Kemenangan ini diraih oleh seluruh nabi.  Kedua. Kemenangan dengan pedang dan kekuatan. Kemenangan ini hanya  diraih oleh nabi yang telah diperintahkan berperang fi sabilillah”.  (Adhwa-ul Bayan, 1: 353).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TENTANG AL I’DAD AL MADI&lt;br /&gt;Disamping mempersiapkan aqidah dan ilmu untuk meraih derajat yang  tinggi, dalam jihad juga harus dilakukan persiapan-persiapan. Yaitu al  i’dad al madi (persiapan materi), yang meliputi dua perkara. Pertama.   ‘Udah al ‘asykariyah (perlengkapan senjata). Kedua. ‘Udah al basyariah  (perlengkapan pasukan atau personalnya). Allah berfirman, yang artinya :  Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu  sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan  persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, (QS Al Anfal : 60) Lihat  juga Al Anfal ayat 65-66.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Shalih Al ‘Utsaimin menyatakan, berjihad itu harus  terpenuhi syaratnya. Hendaknya kaum Muslimin memiliki kemampuan dan  kekuatan, yang dengannya mereka bisa berjihad. Karena, seandainya kaum  Muslimin berperang tanpa dibarengi dengan kernampuan, berarti sama  dengan menjerumuskan diri ke dalam kerusakan. Oleh sebab itu, Allah  tidak mewajibkan kepada kaum Muslimin berperang, ketika mereka berada di  Mekkah, masih dalam keadaan lemah dan dalam cengkeraman kekuasaan orang  kafir. Sehingga setelah berhijrah ke Madinah dan membentuk negara Islam  dan memiliki kekuatan, maka Allah Azza wa Jalla mewajibkan mereka  berperang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, jika belum terkumpul syarat-syaratnya, maka kewajiban  berperang tidak ada, sebagaimana seluruh kewajiban dilakukan sesuai  kemampuan. Yang sekarang harus ditempuh oleh kaum Muslimin ialah  melakukan seluruh sebab-sebab yang telah diwajibkan Allah untuk mencapai  kemenangan, yaitu menyerpurnakan dua persyaratan di atas. Wallahu  a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’ :&lt;br /&gt;1. Zadul Ma’ad, Jilid III, karya Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah.&lt;br /&gt;2. Al Mughni, karya Imam Syaukani.&lt;br /&gt;3. Al Majmu’, karya Imam An Nawawi.&lt;br /&gt;4. Fatawa Al Laimah Fi Masailil Mulimmah, karya Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan.&lt;br /&gt;5. Usus Manhajis Salaf Fi Ad Dakwah Ilallah, karya Fawaz bin Halil bin Robah As Suhaimi.&lt;br /&gt;6. Sabil Ilal Izzah Wat Tamkin, karya Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun IX/1426H/2005M  Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi  Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4798153163355951197-6654492784015214237?l=belajarislam-pras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/feeds/6654492784015214237/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4798153163355951197&amp;postID=6654492784015214237&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/6654492784015214237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/6654492784015214237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/2010/12/rahasia-yang-harus-diketahui-kaum.html' title='RAHASIA YANG HARUS DIKETAHUI KAUM MUSLIMIN'/><author><name>Pras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03566193034142952335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TF--X6RfBvI/AAAAAAAAAEw/EtWZt7Mav7Q/S220/IMG0053A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4798153163355951197.post-7901647795152147511</id><published>2010-12-29T14:01:00.001+07:00</published><updated>2010-12-29T14:03:38.989+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syiah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manhaj'/><title type='text'>PERBEDAAN AHLUS SUNNAH DENGAN RAFIDHAH DALAM PERKARA USHUL DAN FURU’</title><content type='html'>&lt;a href="http://almanhaj.or.id/"&gt;http://almanhaj.or.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Abu Isma’il Muslim Al-Atsari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah Syi’ah berasal dari kata tasyayyu’, yang berarti: membela,  menolong. Sedangkan Syi’ah artinya: para penolong atau para pengikut.  Dahulu, istilah Syi’ah digunakan bagi orang-orang yang membela Ali  Radhiyallahu 'anhu dan keluarganya, tetapi kemudian digunakan sebagai  nama pada kelompok Rafidhah (Syi’ah Ja’fariyyah; Itsna ‘Aysariyyah) dan  Zaidiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERKEMBANGAN SYI’AH&lt;br /&gt;Syi’ah melewati perkembangan-perkembangan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.Dahulu, istilah Syi’ah (tasyayyu’) digunakan sebagai ungkapan  kecintaan terhadap Ali Radhiyallahu 'anhu dan keluarganya, tanpa  merendahkan sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kemudian berkembang sehingga melewati batas terhadap Ali Radhiyallahu  'anhu dan sebagian anggota keluarganya, mencela sahabat Radhiyallahu  'anhum, bahkan mengkafirkan mereka, disertai aqidah-aqidah lain yang  bukan dari agama Islam sama sekali, seperti: taqiyyah, imamah, ‘ishmah,  raj’ah, dan batiniyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kemudian di antara mereka ada yang menuhankan Ali bin Abi Thalib  Radhiyallahu 'anhu dan imam-imam setelahnya, berkeyakinan reinkarnasi  dan aqidah-aqidah kufur lainnya, yang bertameng dengan tasyayyu’  (kecintaan terhadap Ali Radhiyallahu 'anhu dan keluarganya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FIRQAH-FIRQAH (KELOMPOK-KELOMPOK) SYI’AH&lt;br /&gt;Firqah-firqah Syi’ah banyak sekali, sampai sebagian ulama menyebutkan  bahwa mereka mencapai 300 firqah. Sedangkan di zaman ini, firqah mereka  yang besar ada tiga, yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kelompok Rafidhah, dikenal dengan nama Syi’ah Ja’fariyyah, karena  menisbatkan kepada Ja’far Ash-Shadiq. Juga dikenal dengan nama  Imamiyyah, dan Itsna ‘Aysariyyah, karena memiliki keyakinan imam dua  belas. Kelompok inilah yang paling besar dewasa ini. Mereka sekarang  berada di Iran, Irak, Syam, Libanon, Pakistan, Afghanistan Barat, Ahsa’,  dan Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Zaidiyyah, mereka adalah para pengikut Zaid bin Ali bin Al-Husain. Mereka tinggal di Yaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Isma’iliyyah. Mereka menisbatkan kepada Isma’il bin Ja’far Ash-Shadiq  dan meyakini keimamannya, sehingga disebut Isma’iliyyah. Mereka berada  di Jazirah Arab Utara, Afrika Utara, Afrika Tengah, Syam, Pakistan,  India, dan lainnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kelompok di atas, ada kelompok Nushairiyyah, Duruz, Bahrah, Agha Khaniyyah, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kelompok Syi’ah terbesar sekarang ini adalah kelompok Rafidhah  (Syi’ah Ja’fariyyah ; Itsna ‘Aysariyyah), maka kami akan memfokuskan  pembicaraan ini tentang mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;USAHA RAFIDHAH MENDEKATI AHLUS SUNNAH&lt;br /&gt;Semangat Rafidhah untuk memasukkan madzhabnya ke barisan madzhab-madzhab  kaum muslimin begitu kuat, mereka menginginkan seandainya madzhab  mereka disebut madzhab kelima di kalangan kaum muslimin. Oleh karena itu  mereka berusaha mensukseskan program mereka “taqrib (pendekatan) antara  Sunnah dan Syi’ah” dengan berbagai cara. Tidak diragukan lagi bahwa  persatuan kaum muslimin merupakan perkara yang wajib diwujudkan, tetapi  hal itu haruslah tegak di atas fondasi-fondasi kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha-usaha Rafidhah itu sempat menjadikan sebagian kaum  muslimin  terkecoh karenanya. Padahal seandainya mereka mengetahui hakekat agama  Rafidhah, mereka pasti akan lari menjauhi dengan ketakutan! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESESATAN RAFIDHAH&lt;br /&gt;Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, bahwa terdapat jurang perbedaan yang  sangat besar antara Ahlus Sunnah dengan Rafidhah, sehingga mustahil  untuk disatukan! kecuali yang satu berpindah kepada agama yang lain!&lt;br /&gt;Inilah perbedaan-perbedaan mendasar tersebut, yang sekaligus sebagai kesesatan-kesesatan mereka!:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mereka berkeyakinan, -dengan dinisbatkan kepada para imam mereka-  bahwa mereka memiliki Al-Qur’an  yang berbeda dengan yang dimiliki kaum  muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a). Mereka meriwayatkan dari Abu Abdullah, yang berkata: “Al-Qur’an yang  dibawa oleh Jibril Alaihissallam kepada Muhammad Shallallahu 'alaihi wa  sallam adalah 17 ribu ayat”. [Al-Kaafi fil Ushul II/634, Cetakan  Teheran, Iran]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b). Dalam riwayat mereka yang lain disebutkan bahwa Abu Abdullah   berkata : “Pada fihak kami sesungguhnya  ada mushhaf Fatimah. Tahukan  mereka apakah mushhaf Fatimah itu? Jawabnya: “Mushhaf Fatimah itu isinya  tiga kali dibanding dengan Al-Qur’an kalian ini. Demi Allah, tidak  satupun huruf dari Al-Qur’an tersebut,  terdapat dalam Al-Qur’an  kalian.” [Al-Kaafi fil Ushul II/240-241, Cetakan Teheran, Iran]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantahan.&lt;br /&gt;Inilah keyakinan Rafidhah terhadap Al-Qur’anul Karim, keyakinan yang  dapat mengeluarkan pelakunya dari agama Islam. Keyakinan adanya  perubahan di dalam Al-Qur’an ini tersebar di dalam buku-buku induk  mereka! Mungkinkah kelompok yang memiliki keyakinan kufur seperti ini  dianggap sebagai madzhab kelima di kalangan kaum muslimin?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Allah Ta’ala telah memberikan jaminanNya terhadap kebenaran Al-Qur’an, Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. [Al Hijr/15:9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian mereka membantah dengan mengatakan bahwa : “Keyakinan perubahan  terhadap Al-Qur’an adalah tuduhan musuh-musuh Syi’ah, sedangkan kami  (orang-orang Syi’ah) tidak mempercayainya. Buktinya mushhaf yang dicetak  dan dibaca oleh orang-orang Syi’ah sama dengan mushhaf Al-Qur’an yang  dimiliki oleh kaum muslimin yang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantahan.&lt;br /&gt;Bahwa anda –dan sebagian ulama Syi’ah-  tidak meyakini adanya perubahan  di dalam Al-Qur’an, itu adalah hak anda. Tetapi kenyataannya hal itu  tertulis di dalam kitab-kitab utama dan dipercayai di kalangan Rafidhah,  sehingga hal itu merupakan keyakinan Rafidhah. Kalau memang anda tidak  memiliki keyakinan tersebut, sebaiknya anda keluar dari kelompok  Rafidhah yang memiliki kitab-kitab pegangan yang berisikan hal tersebut.  Atau itu sekedar taqiyah (menampakkan sesuatu yang berbeda dengan  keyakinannya)??Dan inilah jawaban tentang keadaan orang-orang Rafidhah  yang menggunakan Al-Qur’an yang sama dengan mush-haf kaum muslimin.  Salah seorang pemimpin Rafidhah, bernama Ni’matullah Al-Jazairi,  menyatakan: “Jika anda bertanya, mengapa kami dibenarkan membaca  Al-Qur’an ini, padahal  telah mengalami perubahan? Saya menjawab: “Telah  diriwayatkan di dalam banyak riwayat bahwa para imam Syi’ah menyuruh  golongan mereka untuk membaca Al-Qur’an yang ada ditangan umat Islam di  waktu shalat dan lain-lain, dan melaksanakan hukum-hukumnya, sampai  kelak datang waktunya pemimpin kita, Shahibuz Zaman, muncul lalu menarik  beredarnya Al-Qur’an yang ada ditangan umat Islam ini ke langit, dan  mengeluarkan Al-Qur’an yang dahulu disusun oleh Amirul Mukminin as, lalu  Al-Qur’an inilah yang dibaca dan diamalkan.” [Al-Anwar An-Nu’maniyyah  II/363-364, Cetakan: Teheran]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, bahwa sebab yang mendorong Rafidhah berkeyakinan adanya  perubahan terhadap Al-Qur’an adalah karena keyakinan pokok mereka, yaitu  tentang keimaman 12 imam versi mereka tidak disebut di dalam Al-Qur’an,  demikian juga di dalam Al-Qur’an penuh pujian dan sanjungan terhadap  para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, padahal para  sahabat adalah orang-orang yang menjadi sasaran caci-maki mereka! Maka  untuk meyakinkan para pengikut, mereka menyatakan bahwa ayat tentang  tentang keimaman dan celaan terhadap para sahabat telah dibuang! Tetapi  pernyataan itu tentulah akan membongkar kekafiran mereka, karena  mengaggap adanya perubahan dalam Al-Qur’an merupakan kekafiran, maka  merekapun berusaha untuk mengingkari hal tersebut. Akan tetapi  riwayat-riwayat yang menyatakan perubahan di dalam Al-Qur’an tersebar  luas di dalam kitab-kitab mereka. Kemudian di antara peristiwa yang  membongkar kesesatan dan kekafiran mereka adalah munculnya sebuah kitab  yang ditulis oleh salah seorang tokoh besar mereka yang berjudul  “Fash-lul Khithab fii Tahriifi Kitabi Rabbil Arbab” (Kata Pemutus  Tantang Adanya Perubahan di Dalam Kitabnya Pengasa Makhluk (kitab  Al-Qur’an)). Penulisnya, yang bernama Mirza Taqiyy An-Nuuri Ath-Thibrisi  menetapkan mutawatirnya riwayat adanya perubahan dalam Al-Qur’an (yang  merupakan keyakinan kekafiran yang nyata dan membongkar kedustaan  mereka!!!)  di dalam kitab-kitab Rafidhah, dan dia mengakui bahwa para  ulama mereka mengimani terhadap kekafiran ini! [Lihat Al-Mujaz fil Adyan  wal Madzahib Al-Mu’ashirah, hal: 125, karya DR. Nashir bin Abdullah  Al-Qifari dan DR. Nashir bin Abdul Karim Al-‘Aql]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mereka Memiliki Keyakinan Syirik Terhadap Para Imam Mereka.&lt;br /&gt;Keyakinan-keyakinan syirik yang bertebaran di dalam kitab-kitab induk  mereka sangat banyak, keyakinan-keyakinan syirik yang lebih sesat dari  orang-orang musyrik di zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.  Karena orang-orang musyrik dahulu meyakini keesaan Allah di dalam  rububiyahNya, sedang keyakinan syirik orang-orang Rafidhah adalah di  dalam rububiyahNya. Inilah di antara keyakinan-keyakinan sesat mereka  itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a). Diriwayatkan dari Abu Abdullah, yang berkata: “Sesungguhnya aku  benar-benar mengetahui segala yang di langit dan di bumi, serta segala  yang di surga dan di neraka,  dan apa yang telah terjadi, serta sedang  dan akan terjadi.” [Al-Kaafi fil Ushul I/261, Cetakan:Teheran]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b). Juga diriwayatkan dari Abu Abdullah, yang berkata: “Sesungguhnya  dunia ini milik imam, dan akhiratpun milik imam. Dia meletakkannya di  mana ia kehendaki dan memberikannya kepada siapa yang ia kehendaki.”  [Al-Kaafi fil Ushul I/409, Cetakan:Teheran]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantahan:&lt;br /&gt;Keyakinan yang tertulis di dalam kitab mereka itu adalah keyakinan syirk  yang mengeluarkan dari agama Islam, dan merupakan keyakinan yang sangat  bertentangan dengan Al-Qur’an, kitab Suci Allah Ta’ala!! Dia berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ  مَا فِي اْلأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا  تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari  Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada  dalam rahim.Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti)  apa yang akan diusahakannya besok.Dan tiada seorangpun yang dapat  mengetahui di bumi mana dia akan mati.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui  lagi Maha Mengenal. [Luqman/31:34]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah juga berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَلِلَّهِ اْلأَخِرَةُ وَاْلأُولَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Tidak), maka hanya milik  Allah-lah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia. [An Najm/53:25]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya masih banyak lagi keyakinan syirik yang tersebut di dalam  kitab-kitab induk mereka, tetapi yang sedikit itupun telah mencukupi  bagi orang yang cerdik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mereka Mengkafirkan Seluruh Sahabat, Kecuali Beberapa Orang Saja,  Yaitu: Ali, Al-Miqdad, Salman Al-Farisi, Abu Dzarr, dan ‘Ammar bin  Yasir.&lt;br /&gt;a). Salah seorang tokoh mereka bernama Salim bin Qais Al-Kufi Al-Hilali  Al-‘Amiri berkata di dalam bukunya “As-Saqifah (kitab Wafatnya Nabi  Shallallahu 'alaihi wa sallam)”, hal: 92 : “...Salman berkata: ‘Ali  berkata: “Sesungguhnya seluruh manusia murtad setelah wafat Nabi  Shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali 4 orang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b). Pada halaman lain disebutkan dari Ibnu Abbas: “Wahai  saudara-saudaraku, pada hari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam  wafat, tidaklah beliau diletakkan di kubur beliau, sehingga orang-orang  memecahkan janji dan murtad, serta mereka sepakat untuk menyelisihi”.  [As-Saqifah, hal:249, karya Salim bin Qais Al-Kufi Al-Hilali Al-‘Amiri;  juga semisalnya diriwayatkan oleh Al-Kulaini di dalam Ar-Raudhah minal  Kafi, VIII/245, 296, dari Abu Ja’far]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c). Diriwayatkan dari Ja’far Ash-Shadiq, dia berkata: “Sesungguhnya  seluruh manusia murtad setelah wafat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam  kecuali segelintir orang saja.”  [Al-Ushul minal Kafi II/319-320]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d). Pada riwayat lain disebutkan: “Seluruh manusia binasa ...kecuali 3  orang.” [Ar-Raudhah minal Kafi, hal:361, karya Al-Kulaini]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keyakinan di atas maka tidaklah aneh jika  kemudian mereka mecela  para sabahat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Celaan yang  membawa kepada kekafiran!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantahan:&lt;br /&gt;Kalau benar keyakinan mereka itu, berarti ummahatul mukminin (para istri  Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam) dan para sahabat semua murtad  dan menjadi kafir menurut mereka. Ini adalah keyakinan yang sangat  munkar, keji, dan bertentangan dengan puluhan ayat Al-Qur’an dan  hadits-hadits shahih yang memuji para sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman bahwa para sahabat adalah ummat terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh  kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada  Allah. [Al Imran/ 3:110]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mereka dipuji oleh Allah sebagai umat yang terbaik, maka bolehkah  berkeyakinan kalau mereka murtad?! Tidak, karena itu adalah keyakinan  kufur!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah juga meridhai para sahabat, dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dengan firmanNya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالسَّابِقُونَ اْلأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَاْلأَنصَارِ  وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا  عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا اْلأَنْهَارُ  خَالِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di  antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti  mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi  mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka  kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [At  Taubah/9:100]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَّقَدْ رَضِىَ اللهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ  الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَافِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزَلَ السَّكِينَة عَلَيْهِمْ  وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu'min ketika mereka  berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang  ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan  memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).  [Al Fath/48:18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مُّحَمَّدُُ رَّسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّآءُ عَلَى  الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ  فَضْلاً مِّنَ اللهِ وَرِضْوَانًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah  keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka:  kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan  keridhaan-Nya. [Al Fath/48:29]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mereka diridhai oleh Allah dan dijanjikan masuk sorga, maka  bolehkah berkeyakinan kalau mereka murtad?! Tidak, karena itu adalah  keyakinan kufur!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak di antara mereka yang mengingkari bahwa mereka mengkafirkan  sahabat dan  mencela mereka, tetapi bukti-bukti tertulis yang ada di  dalam kitab-kitab induk mereka tidak dapat dihilangkan hanya dengan  pengingkaran lesan saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sebagian kesesatan mereka, belum lagi kesesatan-kesesatan lain  yang ada pada mereka, seperti: keyakinan mereka mengagungkan  tempat-tempat gugurnya orang tertentu dan kubur-kubur; mengbolehkan  nikah mut’ah bahkan meyakini keutamaannya; danlain-lain. Yang sedikit  itu sesungguhnya sudah mencukupi bagi orang yang cerdik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERKATAAN PARA ULAMA TENTANG RAFIDHAH&lt;br /&gt;Telah terjadi perselisihan antara Ahlus Sunnah dengan Rafidhah semenjak  zaman dahulu, dan Salafush Shalih telah membantah mereka di zaman itu.  Inilah para ulama yang tercatat membantah Rafidhah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Imam Malik rahimahullah.&lt;br /&gt;Beliau ditanya tentang Rafidhah, beliau menjawab: “Janganlah kamu  berbicara dengan mereka, dan janganlah kamu meriwayatkan dari mereka,  karena mereka berdusta.” [Minhajus Sunnah I/59]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga berkata: “Orang yang mencela para sahabat Nabi, maka dia  tidak termasuk golongan Islam.” [As-Sunnah II/557, karya Al-Khallal]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Aku tidak pernah melihat  seorangpun lebih berani bersaksi palsu daripada Rafidhah”. [Riwayat  Al-Lalikai di dalam Syarh Ushul I’tiqad VIII/1457;  Abu Hatim Ar-Razi di  dalam Aadab Asy-Syafi’I wa Manaqibuhu, hal:187-189; dan Abu Nu’aim di  dalam Al-Hilyah IX/114; serta disebutkan oleh Ibnu Taimiyah di dalam  Minhajus Sunnah I/60 dan Adz-Dzahabi di dalam Siyar X/89]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Barangsiapa mencela sahabat Nabi  Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka kami khawatir dia keluar dari  Islam.” [As-Sunnah II/558, karya Al-Khallal]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Imam Bukhari rahimahullah berkata: “Bagiku sama saja, apakah aku  shalat di belakang orang yang berfaham Jahmiyyah atau Rafidhah, atau aku  shalat di belakang orang Yahudi atau Nashrani. Dan seorang muslim tidak  boleh memberi salam kepada mereka, menjenguk mereka ketika sakit, kawin  dengan mereka, menjadikan mereka sebagai saksi, dan memakan sembelihan  mereka.” [Khalqu Af’alil ‘Ibad, hal:125, karya Imam Bukhari]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Imam Abdurrahman bin Mahdi bin Hasan bin Abdurahman Al-‘Ambari  Al-Bashri rahimahullah, salah seorang imam Ahli Hadits ternama, wafat Th  198H. Beliau berkata: “Dua hal ini (mengingkari kejujuran sahabat dan  mengangap mereka murtad) merupakan agama golongan Jahmiyyah dan  Rafidhah.” [Khalqu Af’alil ‘Ibad, hal:125, karya Imam Bukhari]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Imam Muhammad bin Yusuf Al-Faryabi rahimahullah, salah seorang ahli  hadits terpercaya, dan terbaik di zamannya, wafat Th 212H, imam Bukhari  meriwayatkan 26 hadits darinya. Ketika ditanya tentang orang yang  mencela Abu Bakar, beliau menjawab: “Dia kafir.” [As-Sunnah VI/566,  karya Al-Khallal; Ash-Sharimul Maslul, hal:570, karya Syeikhul Islam  Ibnu Taimiyah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Ahmad bin Yunus rahimahullah, salah seorang tokoh ulama Ahlus Sunnah  di Kufah, wafat th. 227H. Beliau berkata: “Seandainya seorang Yahudi  menyembelih seekor binatang, dan seorang Rafidhi (Syi’ah) menyembelih  seekor binatang, niscaya aku hanya memakan sembelihan si Yahudi, dan aku  tidak mau memakan sembelihan si Rafidhi karena dia telah murtad dari  Islam.”  [Ash-Sharimul Maslul, hal:570, karya Syeikhul Islam Ibnu  Taimiyah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain perkataan para ulama di atas, masih banyak lagi perkataan para ulama yang menyatakan kesesatan Rafidhah, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Abu Zur’ah Ar-Razi rahimahullah. Seorang tokoh ahli hadits, hafal 100  ribu hadits, sehingga ada yang berkata: “Setiap hadits yang tidak  dikenal oleh Abu Zur’ah, maka hadits itu tidak memiliki asal usul.”  Beliau wafat Th 227 H.&lt;br /&gt;9. Ibnu Qutaibah rahimahullah, salah seorang ulama terkenal yang banyak karya-karyanya, wafat Th 276 H.&lt;br /&gt;10. Abdul Qadir Al-Baghdadi rahimahullah, salah seorang tokoh ulama terkenal, wafat Th 429 H.&lt;br /&gt;11. Al-Qadhi Abu Ya’la rahimahullah, seorang ‘alim masalah aqidah dan syari’ah di masanya, wafat Th 458 H&lt;br /&gt;12. Al-Asfarayaini rahimahullah, seorang tokoh terkenal yang banyak karya-karyanya, wafat Th 471 H &lt;br /&gt;13. Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah, wafat Th 505H.&lt;br /&gt;14. Ibnu Hazm rahimahullah.&lt;br /&gt;15. Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah. Seorang tokoh ahli hadits di zamannya, dari Maghribi, wafat Th 544 H&lt;br /&gt;16. As-Sam’ani rahimahullah, tokoh penghafal hadits, yang banyak karya-karyanya, wafat Th 562 H.&lt;br /&gt;17. Fakhrur Razi rahimahullah seorang tokoh terkenal, wafat Th 606 H.&lt;br /&gt;18. Al-Qurthubi rahimahullah di dalam Tafsirnya.&lt;br /&gt;19. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.&lt;br /&gt;20. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah.&lt;br /&gt;21. Imam Adz-Dzahabi rahimahullah.&lt;br /&gt;22. Imam Ibnu Katsir rahimahullah.&lt;br /&gt;23. Syaikh Al-Alusi rahimahullah. &lt;br /&gt;24. Syaikh Ali bin Sulthan bin Muhammad Al-Qaari rahimahullah&lt;br /&gt;25. Abul Mahasin Yusuf Al-Wasithi rahimahullah&lt;br /&gt;26. Syeikh Syah Abdul Azizi Ad-Dahlawi rahimahullah &lt;br /&gt;27. Muhammad Ali Asy-Syaukani rahimahullah &lt;br /&gt;28. DR. Taqiyyuddin Al-Hilali Al-Husaini rahimahullah.&lt;br /&gt;29. Syaikh Muhammad Bahjah Al-Baithar rahimahullah.&lt;br /&gt;30. Syaikh Muhammad Rasyid Ridha rahimahullah.&lt;br /&gt;31. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah.&lt;br /&gt;32. Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi rahimahullah.&lt;br /&gt;33. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah&lt;br /&gt;34. Syaikh Mushthafa al-Adawi.&lt;br /&gt;35. Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari. Dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP.&lt;br /&gt;Setelah kita mengetahui sedikit saja tentang kesesatan Rafidhah, dan  bahwa mereka adalah orang-orang yang dikenal berdusta di kalangan para  ulama, maka janganlah kita terkecoh oleh mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sebutkan di sini, -sebagai nasehat dan peringatan, sesungguhnya  peringatan itu berguna bagi orang-orang yang beriman- di antara orang  yang terkecoh dan memuji-muji Syiah adalah seorang penulis Indonesia,  yang banyak buku-bukunya, yaitu Prof. Dr. Abu Bakar Aceh di dalam  bukunya yang berjudul Syi’ah, Rasionalisme dalam Islam.  Di dalam  bukunya tersebut Prof. meruju’ kepada berbagai buku-buku yang ditulis  oleh orang-orang Syia’h, bahkan sempat memuji-muji kitab Muraja’at karya  Abdul Husain Syarafuddin Al-Musawi (Pernah diterjemahkan ke dalam  bahasa Indonesia oleh penerbit Mizan Bandung dengan judul: Dialog Sunnah  Syi’ah) . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMBAHAN&lt;br /&gt;Cobalah dengar perkataan seorang Ahli hadits yang diakui ilmunya tentang  kitab yang sempat mengecoh sang Prof. tersebut , inilah di antara  perkataan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah tentang  buku tersebut beserta pengarangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Setelah menjelaskan palsunya sebuah hadits tentang keutamaan sahabat  Ali Radhiyallahu 'anhu di dalam kitab Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah  no:892, Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata: “Sesungguhnya ada  beberapa sebab yang mendorongku mentakhrij hadits ini, mengkritiknya,  dan membongkar cacatnya, di antaranya : Aku melihat seorang Syaikh yang  bernama Abdul Husain Syarafuddin Al-Musawi seorang Syi’ah telah  menyebutkan hadits ini di dalam kitab Muraja’at karyanya, hal:27. Dia  mentakhrij hadits ini menipu para pembaca bahwa hadits ini adalah  shahih, sebagaimana kebiasaannya di kalangan orang-orang yang  semisalnya.” [Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah II/295, Penerbit:Maktabul  Ma’arif, Riyadh, Cet:5, Th:1412 H]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kitab Muraja’at karya seorang Syi’ah tersebut dipenuhi oleh  hadits-hadits lemah dan palsu tentang keutamaan Ali Radhiyallahu 'anhu.  Demikian pula disertai kebodohan terhadap ilmu (hadits) yang mulia ini,  penipuan terhadap para pembaca, penyesatan dari al-haq yang nyata,  bahkan kedustaan terang-terangan. Yang hampir-hampir tidak terlintas  pada fikiran pembaca yang mulia bahwa ada seorang di antara para penulis  terjerumus ke dalam keadaan semisalnya. Oleh karena inilah, tekadku  kuat untuk mentakhrij hadits-hadits itu –walaupun jumlahnya banyak-, dan  menjelaskan cacat-cacat dan kelemahannya, serta membongkar perkataan  orang Syi’ah tersebut terhadap hadits-hadits itu, perkataannya yang  berupa penipuan dan penyesatan.” [Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah II/297,  Penerbit:Maktabul Ma’arif, Riyadh, Cet:5, Th:1412 H]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah perkataan seorang yang ahli dan terpercaya mudah-mudahan membuka  mata sebagian kaum muslimin yang tertipu dengan ulah orang-orang  Rafidhah yang berusaha mengecoh mereka dengan perbuatan seperti di atas!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Allah tunjukkanlah al-haq kepada kami sebagai al-haq sehingga kami dapat mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tunjukkanlah kesesatan kepada kami sebagai kesesatan sehingga kami dapat mengikutinya. Wallahu A’lam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun V/1422H/2001M Diterbitkan  Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton  Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4798153163355951197-7901647795152147511?l=belajarislam-pras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/feeds/7901647795152147511/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4798153163355951197&amp;postID=7901647795152147511&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/7901647795152147511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/7901647795152147511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/2010/12/perbedaan-ahlus-sunnah-dengan-rafidhah.html' title='PERBEDAAN AHLUS SUNNAH DENGAN RAFIDHAH DALAM PERKARA USHUL DAN FURU’'/><author><name>Pras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03566193034142952335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TF--X6RfBvI/AAAAAAAAAEw/EtWZt7Mav7Q/S220/IMG0053A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4798153163355951197.post-7248217225803534873</id><published>2010-09-22T08:56:00.000+07:00</published><updated>2010-09-22T08:56:51.819+07:00</updated><title type='text'>ismail-haniyya 40-000 penghafal quran akan lahir sebagai jawaban dari pembakaran quran</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.eramuslim.com/berita/dunia/ismail-haniyya-40-000-penghafal-quran-akan-lahir-sebagai-jawaban-dari-pembakaran-quran.htm"&gt;http://www.eramuslim.com/berita/dunia/ismail-haniyya-40-000-penghafal-quran-akan-lahir-sebagai-jawaban-dari-pembakaran-quran.htm&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4798153163355951197-7248217225803534873?l=belajarislam-pras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.eramuslim.com/berita/dunia/ismail-haniyya-40-000-penghafal-quran-akan-lahir-sebagai-jawaban-dari-pembakaran-quran.htm' title='ismail-haniyya 40-000 penghafal quran akan lahir sebagai jawaban dari pembakaran quran'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/feeds/7248217225803534873/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4798153163355951197&amp;postID=7248217225803534873&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/7248217225803534873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/7248217225803534873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/2010/09/ismail-haniyya-40-000-penghafal-quran.html' title='ismail-haniyya 40-000 penghafal quran akan lahir sebagai jawaban dari pembakaran quran'/><author><name>Pras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03566193034142952335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TF--X6RfBvI/AAAAAAAAAEw/EtWZt7Mav7Q/S220/IMG0053A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4798153163355951197.post-6596655693650226705</id><published>2010-09-22T08:54:00.000+07:00</published><updated>2010-09-22T08:54:26.805+07:00</updated><title type='text'>http://www.eramuslim.com/berita/dunia/ismail-haniyya-40-000-penghafal-quran-akan-lahir-sebagai-jawaban-dari-pembakaran-quran.htm</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.eramuslim.com/berita/dunia/ismail-haniyya-40-000-penghafal-quran-akan-lahir-sebagai-jawaban-dari-pembakaran-quran.htm"&gt;http://www.eramuslim.com/berita/dunia/ismail-haniyya-40-000-penghafal-quran-akan-lahir-sebagai-jawaban-dari-pembakaran-quran.htm&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4798153163355951197-6596655693650226705?l=belajarislam-pras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.eramuslim.com/berita/dunia/ismail-haniyya-40-000-penghafal-quran-akan-lahir-sebagai-jawaban-dari-pembakaran-quran.htm' title='http://www.eramuslim.com/berita/dunia/ismail-haniyya-40-000-penghafal-quran-akan-lahir-sebagai-jawaban-dari-pembakaran-quran.htm'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/feeds/6596655693650226705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4798153163355951197&amp;postID=6596655693650226705&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/6596655693650226705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/6596655693650226705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/2010/09/httpwwweramuslimcomberitaduniaismail.html' title='http://www.eramuslim.com/berita/dunia/ismail-haniyya-40-000-penghafal-quran-akan-lahir-sebagai-jawaban-dari-pembakaran-quran.htm'/><author><name>Pras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03566193034142952335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TF--X6RfBvI/AAAAAAAAAEw/EtWZt7Mav7Q/S220/IMG0053A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4798153163355951197.post-4102304160222133742</id><published>2010-07-27T10:28:00.003+07:00</published><updated>2010-07-27T10:37:21.123+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ramadhan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tarawih'/><title type='text'>Menghidupkan Malam Ramadhan Dengan Shalat Tarawih</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Shalat ini dinamakan tarawih yang artinya istirahat karena orang yang melakukan shalat tarawih beristirahat  setelah melaksanakan shalat empat raka’at. Shalat tarawih termasuk qiyamul lail atau shalat malam. Akan tetapi shalat tarawih ini dikhususkan di bulan Ramadhan. Jadi, shalat tarawih ini adalah shalat malam yang dilakukan di bulan Ramadhan. (Lihat Al Jaami’ li Ahkamish Sholah, 3/63 dan Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9630)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun shalat tarawih tidak disyariatkan untuk tidur terlebih dahulu dan shalat tarawih hanya khusus dikerjakan di bulan Ramadhan. Sedangkan shalat tahajjud menurut mayoritas pakar fiqih adalah shalat sunnah yang dilakukan setelah bangun tidur dan dilakukan di malam mana saja. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9630)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama sepakat bahwa shalat tarawih hukumnya adalah sunnah (dianjurkan). Bahkan menurut Ahnaf, Hanabilah, dan Malikiyyah, hukum shalat tarawih adalah sunnah mu’akkad (sangat dianjurkan). Shalat ini dianjurkan bagi laki-laki dan perempuan. Shalat tarawih merupakan salah satu syi’ar Islam. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9631)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan Shalat Tarawih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, akan mendapatkan ampunan dosa yang telah lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759). Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah shalat tarawih sebagaimana yang dituturkan oleh An Nawawi. (Syarh Muslim, 3/101)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini memberitahukan bahwa shalat tarawih bisa menggugurkan dosa dengan syarat karena iman yaitu membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Allah dan mencari pahala dari Allah, bukan karena riya’ atau alasan lainnya. (Fathul Bari, 6/290)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud “pengampunan dosa” dalam hadits ini adalah bisa mencakup dosa besar dan dosa kecil berdasarkan tekstual hadits, sebagaimana ditegaskan oleh Ibnul Mundzir. Namun An Nawawi mengatakan bahwa yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah khusus untuk dosa kecil. (Lihat Fathul Bari, 6/290)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, shalat tarawih bersama imam seperti shalat semalam penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih).  Hal ini sekaligus merupakan anjuran agar kaum muslimin mengerjakan shalat tarawih secara berjama’ah dan mengikuti imam hingga selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, shalat tarawih adalah seutama-utamanya shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama-ulama Hanabilah (madzhab Hambali) mengatakan bahwa seutama-utamanya shalat sunnah adalah shalat yang dianjurkan dilakukan secara berjama’ah. Karena shalat seperti ini hampir serupa dengan shalat fardhu. Kemudian shalat yang lebih utama lagi adalah shalat rawatib (shalat yang mengiringi shalat fardhu, sebelum atau sesudahnya). Shalat yang paling ditekankan dilakukan secara berjama’ah adalah shalat kusuf (shalat gerhana) kemudian shalat tarawih. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Quwaitiyyah, 2/9633)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarawih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahman, dia mengabarkan bahwa dia pernah bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan?” ‘Aisyah mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak 8 raka’at lalu beliau berwitir. Pada malam berikutnya, kami pun berkumpul di masjid sambil berharap beliau akan keluar. Kami terus menantikan beliau di situ hingga datang waktu fajar. Kemudian kami menemui beliau dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menunggumu tadi malam, dengan harapan engkau akan shalat bersama kami.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya aku khawatir kalau akhirnya shalat tersebut menjadi wajib bagimu.” (HR. Ath Thabrani, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa derajat hadits ini hasan. Lihat Shalat At Tarawih, hal. 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As Suyuthi mengatakan, “Telah ada beberapa hadits shahih dan juga hasan mengenai perintah untuk melaksanakan qiyamul lail di bulan Ramadhan dan ada pula dorongan untuk melakukannya tanpa dibatasi dengan jumlah raka’at tertentu. Dan tidak ada hadits shahih yang mengatakan bahwa jumlah raka’at tarawih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 20 raka’at. Yang dilakukan oleh beliau adalah beliau shalat beberapa malam namun tidak disebutkan batasan jumlah raka’atnya. Kemudian beliau pada malam keempat tidak melakukannya agar orang-orang tidak menyangka bahwa shalat tarawih adalah wajib.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar Al Haitsamiy mengatakan, “Tidak ada satu hadits shahih pun yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat tarawih 20 raka’at. Adapun hadits yang mengatakan “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat (tarawih) 20 raka’at”, ini adalah hadits yang sangat-sangat lemah.” (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Quwaitiyyah, 2/9635)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di bulan Ramadhan 20 raka’at ditambah witir, sanad hadits itu adalah dho’if. Hadits ‘Aisyah yang mengatakan bahwa shalat Nabi tidak lebih dari 11 raka’at juga bertentangan dengan hadits Ibnu Abi Syaibah ini. Padahal ‘Aisyah sendiri lebih mengetahui seluk-beluk kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu malam daripada yang lainnya. Wallahu a’lam.” (Fathul Bari, 6/295)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah Raka’at Shalat Tarawih yang Dianjurkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah raka’at shalat tarawih yang dianjurkan adalah tidak lebih dari 11 atau 13 raka’at. Inilah yang dipilih oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits yang telah lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Aisyah mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;كَانَ صَلاَةُ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً . يَعْنِى بِاللَّيْلِ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di malam hari adalah 13 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1138 dan Muslim no. 764). Sebagian ulama mengatakan bahwa shalat malam yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 11 raka’at. Adapun dua raka’at lainnya adalah dua raka’at ringan yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pembuka melaksanakan shalat malam, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (4/123, Asy Syamilah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bolehkah Menambah Raka’at Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Raka’at?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayoritas ulama terdahulu dan ulama belakangan, mengatakan  bahwa boleh menambah raka’at dari yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, “Sesungguhnya shalat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Shalat malam adalah shalat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan banyak.” (At Tamhid, 21/70)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membenarkan pendapat ini adalah dalil-dalil berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at. Jika engkau khawatir masuk waktu shubuh, lakukanlah shalat witir satu raka’at.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;فَأَعِنِّى عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Bantulah aku (untuk mewujudkan cita-citamu) dengan memperbanyak sujud (shalat).” (HR. Muslim no. 489)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya engkau tidaklah melakukan sekali sujud kepada Allah melainkan Allah akan meninggikan satu derajat bagimu dan menghapus satu kesalahanmu.” (HR. Muslim no. 488)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dalil-dalil di atas menunjukkan beberapa hal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, Pilihan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memilih shalat tarawih dengan 11 atau 13 raka’at ini bukanlah pengkhususan dari tiga dalil di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan pertama, perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengkhususkan ucapan beliau sendiri, sebagaimana hal ini telah diketahui dalam ilmu ushul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan kedua, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melarang menambah lebih dari 11 raka’at. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Shalat malam di bulan Ramadhan tidaklah dibatasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bilangan tertentu. Yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau tidak menambah di bulan Ramadhan atau bulan lainnya lebih dari 13 raka’at, akan tetapi shalat tersebut dilakukan dengan raka’at yang panjang. …Barangsiapa yang mengira bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki bilangan raka’at tertentu yang ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak boleh ditambahi atau dikurangi dari jumlah raka’at yang beliau lakukan, sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan ketiga, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan shalat malam dengan 11 raka’at. Seandainya hal ini diperintahkan tentu saja beliau akan memerintahkan sahabat untuk melaksanakan shalat 11 raka’at, namun tidak ada satu orang pun yang mengatakan demikian. Oleh karena itu, tidaklah tepat mengkhususkan dalil yang bersifat umum yang telah disebutkan di atas. Dalam ushul telah diketahui bahwa dalil yang bersifat umum tidaklah dikhususkan dengan dalil yang bersifat khusus kecuali jika ada pertentangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan shalat malam dengan bacaan yang panjang dalam setiap raka’at. Di zaman setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang begitu berat jika melakukan satu raka’at begitu lama. Akhirnya, ‘Umar memiliki inisiatif agar shalat tarawih dikerjakan dua puluh raka’at agar bisa lebih lama menghidupkan malam Ramadhan, namun dengan bacaan yang ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tatkala ‘Umar mengumpulkan manusia dan Ubay bin Ka’ab sebagai imam, dia melakukan shalat sebanyak 20 raka’at kemudian melaksanakan witir sebanyak tiga raka’at. Namun ketika itu bacaan setiap raka’at lebih ringan dengan diganti raka’at yang ditambah. Karena melakukan semacam ini lebih ringan bagi makmum daripada melakukan satu raka’at dengan bacaan yang begitu panjang.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, telah terdapat dalil yang shahih bahwa ‘Umar bin Al Khottob pernah mengumpulkan manusia untuk melaksanakan shalat tarawih, Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daari ditunjuk sebagai imam. Ketika itu mereka melakukan shalat tarawih sebanyak 21 raka’at. Mereka membaca dalam shalat tersebut ratusan ayat dan shalatnya berakhir ketika mendekati waktu shubuh. (Diriwayatkan oleh ‘Abdur Razaq no. 7730, Ibnul Ja’di no. 2926, Al Baihaqi 2/496. Sanad hadits ini shahih. Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/416)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga terdapat dalil yang menunjukkan bahwa mereka melakukan shalat tarawih sebanyak 11 raka’at. Dari As Saa-ib bin Yazid, beliau mengatakan bahwa ‘Umar bin Al Khottob memerintah Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Daariy untuk melaksanakan shalat tarawih sebanyak 11 raka’at. As Saa-ib mengatakan, “Imam membaca ratusan ayat, sampai-sampai kami bersandar pada tongkat karena saking lamanya. Kami selesai hampir shubuh.” (HR. Malik dalam Al Muqatho’, 1/137, no. 248. Sanadnya shahih. Lihat Shahih Fiqih Sunnah 1/418)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai Pendapat Mengenai Jumlah Raka’at Shalat Tarawih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, shalat tarawih 11 atau 13 raka’at yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah pembatasan. Sehingga para ulama dalam pembatasan jumlah raka’at shalat tarawih ada beberapa pendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat pertama, yang membatasi hanya sebelas raka’at. Alasannya karena inilah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah pendapat Syaikh Al Albani dalam kitab beliau Shalatut Tarawaih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat kedua, shalat tarawih adalah 20 raka’at (belum termasuk witir). Inilah pendapat mayoritas ulama semacam Ats Tsauri, Al Mubarok, Asy Syafi’i, Ash-haabur Ro’yi, juga diriwayatkan dari ‘Umar, ‘Ali dan sahabat lainnya. Bahkan pendapat ini adalah kesepakatan (ijma’) para sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Kasaani mengatakan, “‘Umar mengumpulkan para sahabat untuk melaksanakan qiyam Ramadhan lalu diimami oleh Ubay bin Ka’ab radhiyallahu Ta’ala ‘anhu. Lalu shalat tersebut dilaksanakan 20 raka’at. Tidak ada seorang pun yang mengingkarinya sehingga pendapat ini menjadi ijma’ atau kesepakatan para sahabat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ad Dasuuqiy dan lainnya mengatakan, “Shalat tarawih dengan 20 raka’at inilah yang menjadi amalan para sahabat dan tabi’in.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu ‘Abidin mengatakan, “Shalat tarawih dengan 20 raka’at inilah yang dilakukan di timur dan barat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ali As Sanhuriy mengatakan, “Jumlah 20 raka’at inilah yang menjadi amalan manusia dan terus menerus dilakukan hingga sekarang ini di berbagai negeri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hanabilah mengatakan, “Shalat tarawih 20 raka’at inilah yang dilakukan dan dihadiri banyak sahabat. Sehingga hal ini menjadi ijma’ atau kesepakatan sahabat. Dalil yang menunjukkan hal ini amatlah banyak.” (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9636)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat ketiga, shalat tarawih adalah 39 raka’at dan sudah termasuk witir. Inilah pendapat Imam Malik. Beliau memiliki dalil dari riwayat Daud bin Qois, dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan riwayatnya shahih. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/419)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat keempat, shalat tarawih adalah 40 raka’at dan belum termasuk witir. Sebagaimana hal ini dilakukan oleh ‘Abdurrahman bin Al Aswad shalat malam sebanyak 40 raka’at dan beliau witir 7 raka’at. Bahkan Imam Ahmad bin Hambal melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan tanpa batasan bilangan sebagaimana dikatakan oleh ‘Abdullah. (Lihat Kasyaful Qona’ ‘an Matnil Iqna’, 3/267)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan dari pendapat-pendapat yang ada adalah sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Semua jumlah raka’at di atas boleh dilakukan. Melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan dengan berbagai macam cara tadi itu sangat bagus. Dan memang lebih utama adalah melaksanakan shalat malam sesuai dengan kondisi para jama’ah. Kalau jama’ah kemungkinan senang dengan raka’at-raka’at yang panjang, maka lebih bagus melakukan shalat malam dengan 10 raka’at ditambah dengan witir 3 raka’at, sebagaimana hal ini dipraktekkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri di bulan Ramdhan dan bulan lainnya. Dalam kondisi seperti itu, demikianlah yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apabila para jama’ah tidak mampu melaksanakan raka’at-raka’at yang panjang, maka melaksanakan shalat malam dengan 20 raka’at itulah yang lebih utama. Seperti inilah yang banyak dipraktekkan oleh banyak ulama. Shalat malam dengan 20 raka’at adalah jalan pertengahan antara jumlah raka’at shalat malam yang sepuluh dan yang empat puluh. Kalaupun seseorang melaksanakan shalat malam dengan 40 raka’at atau lebih, itu juga diperbolehkan dan tidak dikatakan makruh sedikitpun. Bahkan para ulama juga telah menegaskan dibolehkannya hal ini semisal Imam Ahmad dan ulama lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, barangsiapa yang menyangka bahwa shalat malam di bulan Ramadhan memiliki batasan bilangan tertentu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga tidak boleh lebih atau kurang dari 11 raka’at, maka sungguh dia telah keliru.” (Majmu’ Al Fatawa, 22/272)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan di atas kami katakan, hendaknya setiap muslim bersikap arif dan bijak dalam menyikapi permasalahan ini.  Sungguh tidak tepatlah kelakuan sebagian saudara kami yang berpisah dari jama’ah shalat tarawih setelah melaksanakan shalat 8 atau 10 raka’at karena mungkin dia tidak mau mengikuti imam yang melaksanakan shalat 23 raka’at atau dia sendiri ingin melaksanakan shalat 23 raka’at di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang keluar dari jama’ah sebelum imam menutup shalatnya dengan witir juga telah meninggalkan pahala yang sangat besar. Karena jama’ah yang mengerjakan shalat bersama imam hingga imam selesai –baik imam melaksanakan 11 atau 23 raka’at- akan memperoleh pahala shalat seperti shalat semalam penuh. “Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih). Semoga Allah memafkan kami dan juga mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Paling Bagus adalah yang Panjang Bacaannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah penjelasan di atas, tidak ada masalah untuk mengerjakan shalat 11 atau 23 raka’at. Namun yang terbaik adalah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun berdirinya agak lama. Dan boleh juga melakukan shalat tarawih dengan 23 raka’at dengan berdiri yang lebih ringan sebagaimana banyak dipilih oleh mayoritas ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُولُ الْقُنُوتِ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Sebaik-baik shalat adalah yang lama berdirinya.” (HR. Muslim no. 756)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُصَلِّىَ الرَّجُلُ مُخْتَصِرًا&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang shalat mukhtashiron.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar –rahimahullah- membawakan hadits  di atas dalam kitab beliau Bulughul Marom, Bab “Dorongan agar khusu’ dalam shalat.” Sebagian ulama menafsirkan ikhtishor (mukhtashiron) dalam hadits di atas adalah shalat yang ringkas (terburu-buru), tidak ada thuma’ninah ketika membaca surat, ruku’ dan sujud. (Lihat Syarh Bulughul Marom, Syaikh ‘Athiyah Muhammad Salim, 49/3, Asy Syamilah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, tidak tepat jika shalat 23 raka’at dilakukan dengan kebut-kebutan, bacaan Al Fatihah pun kadang dibaca dengan satu nafas. Bahkan kadang pula shalat 23 raka’at yang dilakukan lebih cepat selesai dari yang 11 raka’at. Ini sungguh suatu kekeliruan. Seharusnya shalat tarawih dilakukan dengan penuh khusyu’ dan thuma’ninah, bukan dengan kebut-kebutan. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Setiap Dua Raka’at&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pakar fiqih berpendapat bahwa shalat tarawih dilakukan dengan salam setiap dua raka’at. Karena tarawih termasuk shalat malam. Sedangkan shalat malam dilakukan dengan dua raka’at salam dan dua raka’at salam. Dasarnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Shalat malam adalah dua raka’at dua raka’at.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama-ulama Malikiyah mengatakan, “Dianjurkan bagi yang melaksanakan shalat tarawih untuk melakukan salam setiap dua raka’at dan dimakruhkan mengakhirkan salam hingga empat raka’at. … Yang lebih utama adalah salam setelah dua raka’at.” (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9640)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istirahat Tiap Selesai Empat Raka’at&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama sepakat tentang disyariatkannya istirahat setiap melaksanakan shalat tarawih empat raka’at. Inilah yang sudah turun temurun dilakukan oleh para salaf. Namun tidak mengapa kalau tidak istirahat ketika itu. Dan juga tidak disyariatkan untuk membaca do’a tertentu ketika melakukan istirahat. Inilah pendapat yang benar dalam madzhab Hambali. (Lihat Al Inshof, 3/117)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar dari hal ini adalah perkataan ‘Aisyah yang menjelaskan tata cara shalat malam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;يُصَلِّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat 4 raka’at, maka janganlah tanyakan mengenai bagus dan panjang raka’atnya. Kemudian beliau melaksanakan shalat 4 raka’at lagi, maka janganlah tanyakan mengenai bagus dan panjang raka’atnya.” (HR. Bukhari no. 3569 dan Muslim no. 738)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai catatan penting, tidaklah disyariatkan membaca dzikir-dzikir tertentu atau do’a tertentu ketika istirahat setiap melakukan empat raka’at shalat tarawih, sebagaimana hal ini dilakukan sebagian muslimin di tengah-tengah kita yang mungkin saja belum mengetahui bahwa hal ini tidak ada tuntunannya dalam ajaran Islam. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 1/420)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama-ulama Hambali mengatakan, “Tidak mengapa jika istirahat setiap melaksanakan empat raka’at shalat tarawih ditinggalkan. Dan tidak dianjurkan membaca do’a-do’a tertentu ketika waktu istirahat tersebut karena tidak adanya dalil yang menunjukkan hal ini.” (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9639)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat yang Dibaca Ketika Shalat Tarawih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada riwayat mengenai bacaan surat tertentu dalam shalat tarawih yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, surat yang dibaca boleh berbeda-beda sesuai dengan keadaan. Imam dianjurkan membaca bacaan surat yang tidak sampai membuat jama’ah bubar meninggalkan shalat. Seandainya jama’ah senang dengan bacaan surat yang panjang-panjang, maka itu lebih baik berdasarkan riwayat-riwayat yang telah kami sebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada anjuran dari sebagian ulama semacam ulama Hanafiyah dan Hambali untuk mengkhatamkan Al Qur’an di bulan Ramadhan dengan tujuan agar manusia dapat mendengar seluruh Al Qur’an ketika melaksanakan shalat tarawih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan-Kesalahan Dalam Shalat Tarawih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Menyeru Jama’ah dengan “Ash Sholaatul Jaami’ah”. Ulama-ulama hanabilah berpendapat bahwa tidak ada ucapan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan “Ash Sholaatul Jaami’ah”. Menurut mereka, ini termasuk perkara yang diada-adakan (baca: bid’ah). (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 2/9634)&lt;br /&gt;  2. Dzikir Jama’ah dengan Dikomandoi. Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah tatkala menjelaskan mengenai dzikir setelah shalat mengatakan, “Tidak diperbolehkan para jama’ah membaca dizkir secara berjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh yang lain. Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11/189).&lt;br /&gt;  3. Bubar Sebelum Imam Selesai Shalat Malam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang shalat (malam) bersama imam hingga ia selesai, maka ditulis untuknya pahala melaksanakan shalat satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, Shahih). Jika seseorang bubar terlebih dahulu sebelum imam selesai, maka dia akan kehilangan pahala yang disebutkan dalam hadits ini. Jika imam melaksanakan shalat tarawih ditambah shalat witir, makmum pun seharusnya ikut menyelesaikan bersama imam. Itulah yang lebih tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian sedikit pembahasan kami seputar shalat tarawih. Semoga Allah memberi taufik kepada kita agar dapat menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat tarawih dan amalan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa shallaatu wa salaamu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Alhamdulillahi robbil ‘alamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal (http://rumaysho.com)&lt;br /&gt;Dinukil dari : www.muslim.or.id&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4798153163355951197-4102304160222133742?l=belajarislam-pras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/4102304160222133742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/4102304160222133742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/2010/07/menghidupkan-malam-ramadhan-dengan.html' title='Menghidupkan Malam Ramadhan Dengan Shalat Tarawih'/><author><name>Pras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03566193034142952335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TF--X6RfBvI/AAAAAAAAAEw/EtWZt7Mav7Q/S220/IMG0053A.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4798153163355951197.post-4055949012551991625</id><published>2010-07-26T10:08:00.002+07:00</published><updated>2010-07-26T10:11:00.402+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makanan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sembelihan'/><title type='text'>MAKANAN HARAM 2 ( Terakhir )</title><content type='html'>[6]. BINATANG BUAS BERTARING&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Setiap binatang buas yang bertaring adalah haram dimakan" [Hadits Riwayat. Muslim no. 1933]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa hadits ini mutawatir sebagaimana ditegaskan Imam Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (1/125) dan Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam I'lamul Muwaqqi'in (2/118-119).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya "dziinaab" yakni binatang yang memiliki taring atau kuku tajam untuk melawan manusia seperti serigala, singa, anjing, macan tutul, harimau, beruang, kera dan sejenisnya. Semua itu haram dimakan". [Lihat Syarh Sunnah (11/234) oleh Imam Al-Baghawi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini secara jelas menunjukkan haramnya memakan binatang buas yang bertaring bukan hanya makruh saja. Pendapat yang menyatakan makruh saja adalah pendapat yang salah. [Lihat At-Tamhid (1/111) oleh Ibnu Abdil Barr, I'lamul Muwaqqi'in (4-356) oleh Ibnu Qayyim dan As-Shahihah no. 476 oleh Al-Albani]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Abdil Barr juga mengatakan dalam At-Tamhid (1/127): "Saya tidak mengetahui persilangan pendapat di kalangan ulama kaum muslimin bahwa kera tidak boleh dimakan dan tidak boleh dijual karena tidak ada manfaatnya. Dan kami tidak mengetahui seorang ulama pun yang membolehkan untuk memakannya. Demikian pula anjing, gajah dan seluruh binatang buas yang bertaring. Semuanya sama saja bagiku (keharamannya). Dan hujjah adalah sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bukan pendapat orang....". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama berselisih pendapat tentang musang. Apakah termasuk binatang buas yang haram ataukah tidak ? Pendapat yang rajih bahwa musang adalah halal sebagaimana pendapat Imam Ahmad dan Syafi'i berdasarkan hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dari Ibnu Abi Ammar berkata: Aku pernah bertanya kepada Jabir tentang musang, apakah ia termasuk hewan buruan ? Jawabnya: "Ya". Lalu aku bertanya: apakah boleh dimakan ? Beliau menjawab: Ya. Aku bertanya lagi: Apakah engkau mendengarnya dari Rasulullah ? Jawabnya: Ya. [Shahih. Hadits Riwayat Abu Daud (3801), Tirmidzi (851), Nasa'i (5/191) dan dishahihkan Bukhari, Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al- Baihaqi, Ibnu Qoyyim serta Ibnu Hajar dalam At-Talkhis Habir (1/1507)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apakah hadits Jabir ini bertentangan dengan hadits larangan di atas? ! Imam Ibnu Qoyyim menjelaskan dalam I'lamul Muwaqqi'in (2/120) bahwa tidak ada kontradiksi antara dua hadits di atas. Sebab musang tidaklah termasuk kategori binatang buas, baik ditinjau dari segi bahasa maupun segi urf (kebiasaan) manusia. Penjelasan ini disetujui oleh Al-Allamah Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi (5/411) dan Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani dalam At-Ta'liqat Ar-Radhiyyah (3-28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7]. BURUNG YANG BERKUKU TAJAM&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dari Ibnu Abbas berkata: "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari setiap hewan buas yang bertaring dan berkuku tajam" [Hadits Riwayat Muslim no. 1934]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Baghawi berkata dalam Syarh Sunnah (11/234) "Demikian juga setiap burung yang berkuku tajam seperti burung garuda, elang dan sejenisnya". Imam Nawawi berkata dalam Syarh Shahih Muslim 13/72-73: "Dalam hadits ini terdapat dalil bagi madzab Syafi'i, Abu Hanifah, Ahmad, Daud dan mayoritas ulama tentang haramnya memakan binatang buas yang bertaring dan burung&lt;br /&gt;yang berkuku tajam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8]. KHIMAR AHLIYYAH (KELEDAI JINAK)&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dari Jabir berkata: "Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melarang pada perang khaibar dari (makan) daging khimar dan memperbolehkan daging kuda". [Hadits Riwayat Bukhori no. 4219 dan Muslim no. 1941]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain disebutkan begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Pada perang Khaibar, mereka meneyembelih kuda, bighal dan khimar. Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melarang dari bighal dan khimar dan tidak melarang dari kuda" [Shahih. HR Abu Daud (3789), Nasa'i (7/201), Ahmad (3/356), Ibnu Hibban (5272), Baihaqi (9/327), Daraqutni (4/288-289) dan Al-Baghawi dalam Syarhu Sunnah no. 2811]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits di atas terdapat dua masalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Haramnya keledai jinak. Ini merupakan pendapat jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi'in dan ulama setelah mereka berdasarkan hadits-hadits shahih dan jelas seperti di atas. Adapaun keledai liar, maka hukumnya halal dengan kesepakatan ulama. [Lihat Sailul Jarrar (4/99) oleh Imam Syaukani]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua : Halalnya daging kuda. Ini merupakan pendapat Zaid bin Ali, Syafi'i, Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan mayoritass ulama salaf berdasarkan hadits-hadits shahih dan jelas di atas. Ibnu Abi Syaiban meriwayatkan dengan sanadnya yang sesuai syarat Bukhari Muslim dari Atha' bahwa beliau berkata kepada Ibnu Juraij: " Salafmu biasa memakannya (daging kuda)". Ibnu Juraij berkata: "Apakah sahabat Rasulullah ? Jawabnya : Ya. (Lihat Subulus Salam (4/146-147) oleh Imam As-Shan'ani]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9]. AL-JALLALAH&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah melarang dari jalalah unta untuk dinaiki". [Hadits Riwayat. Abu Daud no. 2558 dengan sanad shahih]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain disebutkan: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memakan jallalah dan susunya." [Hadits Riwayat. Abu Daud : 3785, Tirmidzi: 1823 dan Ibnu Majah: 3189]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Amr bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari keledai jinak dan jalalah, menaiki dan memakan dagingnya " [Hadits Riwayat Ahmad (2/219) dan dihasankan Al-Hafidz dalam Fathul Bari 9/648]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud Al-Jalalah yaitu setiap hewan baik hewan berkaki empat maupun berkaki dua yang makanan pokoknya adalah kotoran-kotoran seperti kotoran manusia/hewan dan sejenisnya. (Fahul Bari 9/648). Ibnu Abi Syaiban dalam Al-Mushannaf (5/147/24598) meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa beliau mengurung ayam yang makan kotoran selama tiga hari. [Sanadnya shahih sebagaimana dikatakan Al-Hafidz dalam Fathul Bari 9/648]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Baghawi dalam Syarh Sunnah (11/254) juga berkata: "Kemudian menghukumi suatu hewan yang memakan kotoran sebagai jalalah perlu diteliti. Apabila hewan tersebut memakan kotoran hanya bersifat kadang-kadang, maka ini tidak termasuk kategori jalalah dan tidak haram dimakan seperti ayam dan sejenisnya..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum jalalah adalah haram dimakan sebagaimana pendapat mayoritas Syafi'iyyah dan Hanabilah. Pendapat ini juga ditegaskan oleh Ibnu Daqiq Al-'Ied dari para fuqaha' serta dishahihkan oleh Abu Ishaq Al-Marwazi, Al-Qoffal, Al-Juwaini, Al-Baghawi dan Al-Ghozali. [Lihat Fathul Bari (9/648)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab diharamkannya jalalah adalah perubahan bau dan rasa daging dan susunya. Apabila pengaruh kotoran pada daging hewan yang membuat keharamannya itu hilang, maka tidak lagi haram hukumnya, bahkan hukumnya hahal secara yakin dan tidak ada batas waktu tertentu. Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan (9/648): "Ukuran waktu boelhnya memakan hewan jalalah yaitu apabila bau kotoran pada hewan tersebut hilang dengan diganti oleh sesuatu yang suci menurut pendapat yang benar.". Pendapat ini dikuatkan oleh imam Syaukani dalam Nailul Authar (7/464) dan Al-Albani dan At-Ta'liqat Ar-&lt;br /&gt;Radhiyyah (3/32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10]. AD-DHAB (HEWAN SEJENIS BIAWAK) BAGI YANG MERASA JIJIK DARINYA&lt;br /&gt;Berdasarkan hadits .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dari Abdur Rahman bin Syibl berkata: Rasulullah melarang dari makan dhab (hewan sejenis biawak). [Hasan. HR Abu Daud (3796), Al-Fasawi dalam Al-Ma'rifah wa Tarikh (2/318), Baihaqi (9/326) dan dihasankan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam FathulBari (9/665) serta disetujui oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 2390)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar terdapat beberapa hadits yang banyak sekali dalam Bukhari Muslim dan selainnya yang menjelaskan bolehnya makan dhab baik secara tegas berupa sabda Nabi maupun taqrir (persetujuan Nabi). Diantaranya , Hadits Abdullah bin Umar secara marfu' (sampai pada nabi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dhab, saya tidak memakannya dan saya juga tidak mengharamkannya." [Hadits Riwayat Bukhari no.5536 dan Muslim no. 1943]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula hadits Ibnu Abbas dari Khalid bin Walid bahwa beliau pernah masuk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke rumah Maimunah. Di sana telah dihidangkan dhab panggang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkehendak untuk mengambilnya. Sebagian wanita berkata : Khabarkanlah pada Rasulullah tentang daging yang hendak beliau makan !, lalu merekapun berkata : Wahai Rasulullah, ini adalah daging dhab. Serta merta Rasulullah mengangkat tangannya. Aku bertanya : Apakah daging ini haram hai Rasulullah? Beliau menjawab : “Tidak, tetapi hewan ini tidak ada di kampung kaumku sehingga akupun merasa tidak enak memakannya. Khalid berkata : Lantas aku mengambil dan memakannya sedangkan Rasulullah melihat. [Hadits Riwayat Bukhari no. 5537 dan Muslim no. 1946]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hadit ini serta banyak lagi lainnya –sekalipun lebih shahih dan lebih jelas- tidak bertentangan dengan hadits Abdur Rahman bin Syibl di atas atau melazimkan lemahnya, karena masih dapat dikompromikan diantara keduanya.Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (9/666) menyatukannya bahwa larangan dalam hadits Abdur Rahman Syibl tadi menunjukkan makruh bagi orang yang merasa jijik untuk memakan dhab. Adapun hadits-hadits yang menjelaskan bolehnya dhab, maka ini bagi mereka yang tidak merasa jijik untuk memakannya. Dengan demikian, maka tidak melazimkan bahwa dhab hukumnya makruh secara mutlak. [Lihat pula As-Shahihah (5/506) oleh Al-Albani dan Al-Mausu’ah Al-Manahi As-Syar’iyyah (3/118) oleh Syaikh Salim Al-Hilali]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11]. HEWAN YANG DIPERINTAHKAN AGAMA SUPAYA DIBUNUH&lt;br /&gt;"Dari Aisyah berkata: Rasulullah bersabda: Lima hewan fasik yang hendaknya dibunuh, baik di tanah halal maupun haram yaitu ular, tikus, anjing hitam." [Hadits Riwayat Muslim no. 1198 dan Bukhari no. 1829 dengan lafadz "kalajengking: gantinya "ular"]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam ibnu Hazm mengatakan dalam Al-Muhalla (6/73-74): "Setiap binatang yang diperintahkan oleh Rasulullah supaya dibunuh maka tidak ada sembelihan baginya, karena Rasulullah melarang dari menyia-nyiakan harta dan tidak halal membunuh binatang yang dimakan" [Lihat pula Al-Mughni (13/323) oleh Ibnu Qudamah dan Al-Majmu' Syarh Muhadzab (9/23) oleh Nawawi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dari Ummu Syarik berkata bahwa Nabi memerintahkan supaya membunuh tokek/cecak" [Hadits Riwayat. Bukhari no. 3359 dan Muslim 2237). Imam Ibnu Abdil Barr berkata dalam At-Tamhid (6/129) : "Tokek/cecak telah&lt;br /&gt;disepakati keharaman memakannya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12]. HEWAN YANG DILARANG UNTUK DIBUNUH&lt;br /&gt;"Dari Ibnu Abbas berkata: Rasulullah melarang membunuh 4 hewan : semut, tawon, burung hud-hud dan burung surad " [Hadits Riwayat Ahmad (1/332,347), Abu Daud (5267), Ibnu Majah (3224), Ibnu Hibban (7/463) dan dishahihkan Baihaqi dan Ibnu Hajar dalam At-Talkhis 4/916]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam syafi'i dan para sahabatnya mengatakan: "Setiap hewan yang dilarang dibunuh berarti tidak boleh dimakan, karena seandainya boleh dimakan, tentu tidak akan dilarang membunuhnya." [Lihat Al-Majmu' (9/23) oleh Nawawi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haramnya hewan-hewan di atas merupakan pendapat mayoritas ahli ilmu sekalipun ada perselisihan di dalamnya kecuali semut, nampaknya disepakati keharamannya. [Lihat Subul Salam 4/156, Nailul Authar 8/465-468, Faaidhul Qadir 6/414 oleh Al-Munawi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Dari Abdur Rahman bin Utsman Al-Qurasyi bahwasanya seorang tabib pernah bertanya kepada Rasulullah tentang kodok/katak dijadikan obat, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuhnya” [Hadits Riwayat Ahmad (3/453), Abu Daud (5269), Nasa'i (4355), Al-Hakim (4/410-411), Baihaqi (9/258,318) dan dishahihkan Ibnu Hajar dan Al-Albani]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haramnya katak secara mutlak merupakan pendapat Imam Ahmad dan beberapa ulama lainnya serta pendapat yang shahih dari madzab Syafi'i. Al-Abdari menukil dari Abu Bakar As-Shidiq, Umar, Utsman dan Ibnu Abbas bahwa seluruh bangkai laut hukumnya halal kecuali katak. [Lihat pula Al-Majmu' (9/35), Al-Mughni (13/345), Adhwaul Bayan (1/59) oleh Syaikh As-Syanqithi, Aunul Ma'bud (14/121) oleh Adzim Abadi dan Taudhihul Ahkam (6/26) oleh Al-Bassam]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13]. BINATANG YANG HIDUP DI DUA ALAM&lt;br /&gt;Sebagai penutup pembahasan ini, ada sebuah pertanyaan : “Adakah ayat Qur’an atau Hadits shahih yang menyatakan bahwa binatang yang hidup di dua alam haram hukum memakannya seperti kepiting, kura-kura, anjing laut dan kodok?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab secara umum : Perlu kita ingat lagi kaidah penting tentang makanan yaitu asal segala jenis makanan adalah halal kecuali apabila ada dalil yang mengharamkannya. Dan sepanjang pengetahuan kami tiddak ada dalil dari Al-Qur'an dan hadits yang shahih yang menjelaskan tentang haramnya hewan yang hidup di dua alam (laut dan darat). Dengan demikian binatang yang hidup di dua alam dasar hukumnya "asal hukumnya adalah halal kecuali ada dalil yangmengharamkannya. [Lihat pula “Soal jawab” Juz. 2 hal. 658 oleh Ustadz A Hassan dkk]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun jawaban secara terperinci : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepiting - hukumnya halal sebagaimana pendapat Atha' dan Imam Ahmad. [Lihat Al-Mughni 13/344 oleh Ibnu Qudamah dan Al-Muhalla 6/84 oleh Ibnu Hazm]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kura-kura dan Penyu - juga halal sebagaimana madzab Abu Hurairah, Thawus, Muhammad bin Ali, Atha', Hasan Al-Bashri dan fuqaha' Madinah. [Lihat Al-Mushannaf (5/146) Ibnu Abi Syaibah dan Al-Muhalla (6/84]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjing laut - juga halal sebagaimana pendapat Imam Malik, Syafi'i, Laits, Sya'bi dan Al-Auza'i [Lihat Al-Mughni 13/346]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katak/kodok - hukumnya haram secara mutlak menurut pendapat yang rajih karena termasuk hewan yang dilarang dibunuh sebagaimana penjelasan di atas. Wallahu A’lam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah pembahasan yang dapat kami sampaikan. Apabila benar, maka itu dari Allah dan apabila salah, maka hal itu karena kemiskinan penulis dari perbendaharaan ilmu yang mulia ini dan penulis menerima nasehat dan kritik pembaca semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah Al Furqon, Edisi : 12 Tahun II/Rojab 1424. Penerbit Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Alamat : Maktabah Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : www.almanhaj.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4798153163355951197-4055949012551991625?l=belajarislam-pras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/4055949012551991625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/4055949012551991625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/2010/07/makanan-haram-2-terakhir.html' title='MAKANAN HARAM 2 ( Terakhir )'/><author><name>Pras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03566193034142952335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TF--X6RfBvI/AAAAAAAAAEw/EtWZt7Mav7Q/S220/IMG0053A.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4798153163355951197.post-5808173167213652355</id><published>2010-07-26T10:03:00.003+07:00</published><updated>2010-07-26T10:08:10.874+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Makanan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sembelihan'/><title type='text'>MAKANAN HARAM 1</title><content type='html'>MAKANAN HARAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Ustadz Abu Ubaidah Al-Atsari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa makanan mempunyai pengaruh yang dominant bagi diri orang yang memakannya, artinya : makanan yang halal, bersih dan baik akan membentuk jiwa yang suci dan jasmani yang sehat. Sebaliknya, makanan yang haram akan membentuk jiwa yang keji dan hewani. Oleh karena itulah, Islam memerintahkan kepada pemeluknya untuk memilih makanan yang halal serta menjauhi makanan yang haram. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah baik, tidak menerima kecuali hal-hal yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mu’min sebagaimana yang diperintahkan kepada para rasul, Allah berfirman : “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Dan firmanNya yang lain : “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu”. Kemudian beliau mencontohkan seorang laki-laki, dia telah menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut serta berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit : “Ya Rabbi ! Ya Rabbi! Sedangkan ia memakan makanan yang haram, dan pakaiannya yang ia pakai dari harta yang haram, dan ia meminum dari minuman yang haram,dan dibesarkan dari hal-hal yang haram, bagaimana mungkin akan diterima do’anya” [Hadits Riwayat Muslim no. 1015]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah juga berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk” [Al-A’raf : 157]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna “ At-Thoyyibaat” bisa berarti lezat/enak, tidak membahayakan, bersih atau halal. [Lihat Fathul Bari (9/518) oleh Ibnu Hajar]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan makan “Al-Khabaaits” bisa berarti sesuatu yang menjijikan, berbahaya dan haram. Sesuatu yang menjijikan seperti barang-barang najis, kotoran atau hewan-hewan sejenis ulat, kumbang, jangkrik, tikus, tokek/cecak, kalajengking, ular dan sebagainya sebagaimana pendapat Abu Hanifah dan Syafi’i. [Lihat Al-Mughni (13/317) oleh Ibnu Qudamah]. Sesuatu yang membahayakan seperti racun, narkoba dengan aneka jenisnya, rokok dan sebagainya. Adapun makanan haram seperti babi, bangkai dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAIDAH PENTING TENTANG MAKANAN&lt;br /&gt;Sebelum melangkah lebih lanjut, perlu kita tegaskan terlebih dahulu bahwa asal hukum segala jenis makanan baik dari hewan, tumbuhan, laut maupun daratan adalah halal. Allah berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi” [Al-Baqarah : 168]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak boleh bagi seorang untuk mengharamkan suatu makanan kecuali berlandaskan dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang shahih. Apabila seorang mengharamkan tanpa dalil, maka dia telah membuat kedustaan kepada Allah, Rabb semesta alam. FirmanNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan lebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung” [An-Nahl : 116]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKANAN HARAM&lt;br /&gt;Karena asal hukum makanan adalah halal, maka Allah tidak merinci dalam Al-Qur’an satu persatu, demikian juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-haditsnya. Lain halnya dengan makanan haram, Allah telah memerinci secara detail dalam Al-Qur’an atau melalui lisan rasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Allah berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkanNya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya” [Al-An’am : 119]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perincian penjelasan tentang makanan haram, dapat kita temukan dalam surat Al-Maidah ayat 3 sebagai berikut ;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya” [Al-Maidah : 3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat di atas dapat kita ketahui beberapa jenis makanan haram yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. BANGKAI&lt;br /&gt;Yaitu hewan yang mati bukan karena disembelih atau diburu. Hukumnya jelas haram dan bahaya yang ditimbulkannya bagi agama dan badan manusia sangat nyata, sebab pada bangkai terdapat darah yang mengendap sehingga sangat berbahaya bagi kesehatan. Bangkai ada beberapa macam sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a].Al-Munkhaniqoh yaitu hewan yang mati karena tercekik baik secara sengaja atau tidak.&lt;br /&gt;[b].Al-Mauqudhah yaitu hewan yang mati karena dipukul dengan alat/benda keras hingga mati olehnya atau disetrum dengan alat listrik.&lt;br /&gt;[c]. Al-Mutaraddiyah yaitu hewan yang mati karena jatuh dari tempat tinggi atau jatuh ke dalam sumur sehingga mati&lt;br /&gt;[d]. An-Nathihah yaitu hewan yang mati karena ditanduk oleh hewan lainnya [Lihat Tafsir Al-Qur'an Al-Adzim 3/22 oleh Imam Ibnu Katsir]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun bangkai haram hukumnya tetapi ada yang dikecualikan yaitu bangkai ikan dan belalang berdasarkan hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dari Ibnu Umar berkata: " Dihalalkan untuk dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai yaitu ikan dan belalang, sedang dua darah yaitu hati dan limpa." [Shahih. Lihat takhrijnya dalam Al-Furqan hal 27 edisi 4/Th.11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululah juga pernah ditanya tentang air laut, maka beliau bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Laut itu suci airnya dan halal bangkainya" [Shahih. Lihat takhrijnya dalam Al-Furqan 26 edisi 3/Th 11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani berkata dalam Silsilah As-Shahihah (no. 480): "Dalam hadits ini terdapat faedah penting yaitu halalnya setiap bangkai hewan laut sekalipun terapung di atas air (laut)? Beliau menjawab: "Sesungguhnya yang terapung itu termasuk bangkainya sedangkan Rasulullah bersabda: "Laut itu suci airnya dan halal bangkainya" [Hadits Riwayat Daraqutni : 538]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hadits tentang larangan memakan sesuatu yang terapung di atas laut tidaklah shahih. [Lihat pula Al-Muhalla (6/60-65) oleh Ibnu Hazm dan Syarh Shahih Muslim (13/76) oleh An-Nawawi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. DARAH&lt;br /&gt;Yaitu darah yang mengalir sebagaimana dijelaskan dalam ayat lainnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Artinya : Atau darah yang mengalir" [Al-An'Am : 145]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah dikatakan oleh Ibnu Abbas dan Sa'id bin Jubair. Diceritakan bahwa orang-orang jahiliyyah dahulu apabila seorang diantara mereka merasa lapar, maka dia mengambil sebilah alat tajam yang terbuat dari tulang atau sejenisnya, lalu digunakan untuk memotong unta atau hewan yang kemudian darah yang keluar dikumpulkan dan dibuat makanan/minuman. Oleh karena itulah, Allah mengharamkan darah pada umat ini. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/23-24]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun darah adalah haram, tetapi ada pengecualian yaitu hati dan limpa berdasarkan hadits Ibnu Umar di atas tadi. Demikian pula sisa-sisa darah yang menempel pada daging atau leher setelah disembelih. Semuanya itu hukumnya halal. Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: " Pendapat yang benar, bahwa darah yang diharamkan oleh Allah adalah darah yang mengalir. Adapun sisa darah yang menempel pada daging, maka tidak ada satupun dari kalangan ulama' yang mengharamkannya". [Dinukil dari Al-Mulakhas Al-Fiqhi 2/461 oleh Syaikh Dr. Shahih Al-Fauzan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. DAGING BABI&lt;br /&gt;Babi, baik peliharaan maupun liar, jantan maupun betina. Dan mencakup seluruh anggota tubuh babi sekalipun minyaknya. Tentang keharamannya, telah ditandaskan dalam al-Qur'an, hadits dan ijma' ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah pengharamannya karena babi adalah hewan yang sangat menjijikan dangan mengandung penyakit yang sangat berbahaya. Oleh karena itu,makanan kesukaan hewan ini adalah barang-barang yang najis dan kotor. Daging babi sangat berbahaya dalam setiap iklim, lebih-lebih pada iklim panas sebagaimana terbukti dalam percobaan. Makan daging babi dapat menyebabkan timbulnya satu virus tunggal yang dapat mematikan. Penelitian telah menyibak bahwa babi mempunyai pengaruh dan dampak negatif dalam masalah iffah (kehormatan) dan kecemburuan sebagaimana kenyataan penduduk negeri yang biasa makan babi. Ilmu modern juga telah menyingkap akan adanya penyakit ganas yang sulit pengobatannya bagi pemakan daging babi. [Dari penjelasan Syaikh Abdul Aziz bin Baz sebagaimana dalam Fatawa Islamiyyah 3/394-395]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]. SEMBELIHAN UNTUK SELAIN ALLAH&lt;br /&gt;Yakni setiap hewan yang disembelih dengan selain nama Allah hukumnya haram, karena Allah mewajibkan agar setiap makhlukNya disembelih dengan nama-Nya yang mulia. Oleh karenanya, apabila seorang tidak mengindahkan hal itu bahkan menyebut nama selain Allah baik patung, taghut, berhala dan lain sebagainya , maka hukum sembelihan tersebut adalah haram dengan kesepakatan ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5]. HEWAN YANG DITERKAM BINATANG BUAS&lt;br /&gt;Yakni hewan yang diterkam oleh harimau, serigala atau anjing lalu dimakan sebagiannya kemudia mati karenanya, maka hukumnya adalah haram sekalipun darahnya mengalir dan bagian lehernya yang kena. Semua itu hukumnya haram dengan kesepakatan ulama. Orang-orang jahiliyah dulu biasa memakan hewan yang diterkam oleh binatang buas baik kambing, unta, sapi dan lain sebagainya, maka Allah mengharamkan hal itu bagi kaum mukminin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Mauqudhah, Al-Munkhaniqoh, Al-Mutaraddiyah, An-Nathihah dan hewan yang diterkam binatang buas apabila dijumpai masih hidup (bernyawa) seperti kalau tangan dan kakinya masih bergerak atau masih bernafas kemudian disembelih secara syar'i, maka hewan tersebut adalah halal karena telah disembelih secara halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : www.almanhaj.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4798153163355951197-5808173167213652355?l=belajarislam-pras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/5808173167213652355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/5808173167213652355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/2010/07/makanan-haram-1.html' title='MAKANAN HARAM 1'/><author><name>Pras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03566193034142952335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TF--X6RfBvI/AAAAAAAAAEw/EtWZt7Mav7Q/S220/IMG0053A.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4798153163355951197.post-5947902009431408051</id><published>2010-07-22T09:32:00.012+07:00</published><updated>2010-07-26T14:52:51.372+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Murotal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pasang MP3 Qur&apos;an'/><title type='text'>Cara pasang MP3 Qur'an diblogspot</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1705868524; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1987533178 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:.5in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in;} ol 	{margin-bottom:0in;} ul 	{margin-bottom:0in;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; beberapa cara memasang MP3 Qur’an diblog, termasuk Google sendiri menyediakan gadget MP3 Player. Tetapi ada cara yang mudah untuk memasang MP3 player diblogspot tanpa register dulu lihat disini : &lt;b style=""&gt;&lt;a href="http://asweb.info/scmplayer/"&gt;http://asweb.info/scmplayer/&lt;/a&gt;. &lt;/b&gt;Sebelumnya upload dulu MP3 Qur’an anda disini &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255); font-weight: bold;"&gt;http://www.mailboxdrive.com/&lt;/span&gt; ( tapi yang ini harus register dulu ) , Sebaiknya anda meng-upload file anda sebanyak-banyaknya. Masukkan kode Murotal yang sudah di-Upload dan klik Get the Code. Code itulah yang nanti kita masukkan ke Edit playlist-Song URL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Caranya &lt;/span&gt;:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pilih Skin      yang anda inginkan.&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TEfVWzluhQI/AAAAAAAAACY/NsG_Qu_uEkY/s1600/Untitled-TrueColor-01.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 319px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TEfVWzluhQI/AAAAAAAAACY/NsG_Qu_uEkY/s320/Untitled-TrueColor-01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496596458011264258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih Edit      Playlist akan muncul tampilan seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TEfWA-9V4zI/AAAAAAAAACg/JzuOFAgUrpw/s1600/Untitled-TrueColor-02.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TEfWA-9V4zI/AAAAAAAAACg/JzuOFAgUrpw/s320/Untitled-TrueColor-02.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496597182617609010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;Copy      Paste code URL MP3 Qur’an anda yang sudah kita upload ke dalam Song &lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;URL ( Jangan  tekan Done terlebih      dahulu. ) Lihat gambar dibawah ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TEfWQuE_KnI/AAAAAAAAACo/Jra4lN4Y65Q/s1600/Untitled-TrueColor-03.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TEfWQuE_KnI/AAAAAAAAACo/Jra4lN4Y65Q/s320/Untitled-TrueColor-03.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496597452964178546" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Pilih      Configure Setting bagi anda yang      menginginkan apakah auto play, letak player      diatas atau dibawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih      Done &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;maka akan muncul embed code,&lt;span style=""&gt; C&lt;/span&gt;opy paste embed code diblog anda .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TEfW49_r3oI/AAAAAAAAACw/9RdpSb9HQk4/s1600/Untitled-TrueColor-04.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TEfW49_r3oI/AAAAAAAAACw/9RdpSb9HQk4/s320/Untitled-TrueColor-04.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5496598144431677058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"  &gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Semoga berhasil&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4798153163355951197-5947902009431408051?l=belajarislam-pras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/5947902009431408051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/5947902009431408051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/2010/07/cara-pasang-mp3-quran-diblogspot.html' title='Cara pasang MP3 Qur&apos;an diblogspot'/><author><name>Pras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03566193034142952335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TF--X6RfBvI/AAAAAAAAAEw/EtWZt7Mav7Q/S220/IMG0053A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TEfVWzluhQI/AAAAAAAAACY/NsG_Qu_uEkY/s72-c/Untitled-TrueColor-01.jpg' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4798153163355951197.post-4697583962373988870</id><published>2010-07-21T09:41:00.004+07:00</published><updated>2010-07-21T10:05:26.260+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Video sholat'/><title type='text'>VIDEO PERSIAPAN SHOLAT</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;object width="320" height="266" class="BLOG_video_class" id="BLOG_video-350d0a6302071222" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/get_player"&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF"&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="flashvars" value="flvurl=http://v20.nonxt4.googlevideo.com/videoplayback?id%3D350d0a6302071222%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1330262707%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D6EBDA2542FD95FF6D0F34BD3937C186F9929EA50.4A601FF8000238D10D08FED65213DD32DC8DB5F1%26key%3Dck1&amp;amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3D350d0a6302071222%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3DjlQMR_TYnNAQOXe7e0wNVvRcy0s&amp;amp;autoplay=0&amp;amp;ps=blogger"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/get_player" type="application/x-shockwave-flash"width="320" height="266" bgcolor="#FFFFFF"flashvars="flvurl=http://v20.nonxt4.googlevideo.com/videoplayback?id%3D350d0a6302071222%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1330262707%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D6EBDA2542FD95FF6D0F34BD3937C186F9929EA50.4A601FF8000238D10D08FED65213DD32DC8DB5F1%26key%3Dck1&amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3D350d0a6302071222%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3DjlQMR_TYnNAQOXe7e0wNVvRcy0s&amp;autoplay=0&amp;ps=blogger"allowFullScreen="true" /&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4798153163355951197-4697583962373988870?l=belajarislam-pras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/4697583962373988870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/4697583962373988870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/2010/07/video-persiapan-sholat.html' title='VIDEO PERSIAPAN SHOLAT'/><author><name>Pras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03566193034142952335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TF--X6RfBvI/AAAAAAAAAEw/EtWZt7Mav7Q/S220/IMG0053A.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4798153163355951197.post-1714477244132373673</id><published>2010-07-20T09:13:00.005+07:00</published><updated>2010-07-20T09:37:37.937+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Video'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wudhu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tayamum'/><title type='text'>VIDEO WUDHU DAN TAYAMUM</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;object width="320" height="266" class="BLOG_video_class" id="BLOG_video-ad0a4fab7565751b" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/get_player"&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF"&gt;&lt;param name="allowfullscreen" value="true"&gt;&lt;param name="flashvars" value="flvurl=http://v15.nonxt7.googlevideo.com/videoplayback?id%3Dad0a4fab7565751b%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1330262707%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D7633AD9440CA09B0F0ADCE3C199B0A63504D6C7D.3A37C2E5C27BECDC6B5D14D16196374A4625D4D1%26key%3Dck1&amp;amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3Dad0a4fab7565751b%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3D5vretrXtH_E8762_R8ZNiRYmCQQ&amp;amp;autoplay=0&amp;amp;ps=blogger"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/get_player" type="application/x-shockwave-flash"width="320" height="266" bgcolor="#FFFFFF"flashvars="flvurl=http://v15.nonxt7.googlevideo.com/videoplayback?id%3Dad0a4fab7565751b%26itag%3D5%26app%3Dblogger%26ip%3D0.0.0.0%26ipbits%3D0%26expire%3D1330262707%26sparams%3Did,itag,ip,ipbits,expire%26signature%3D7633AD9440CA09B0F0ADCE3C199B0A63504D6C7D.3A37C2E5C27BECDC6B5D14D16196374A4625D4D1%26key%3Dck1&amp;iurl=http://video.google.com/ThumbnailServer2?app%3Dblogger%26contentid%3Dad0a4fab7565751b%26offsetms%3D5000%26itag%3Dw160%26sigh%3D5vretrXtH_E8762_R8ZNiRYmCQQ&amp;autoplay=0&amp;ps=blogger"allowFullScreen="true" /&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4798153163355951197-1714477244132373673?l=belajarislam-pras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/1714477244132373673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/1714477244132373673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/2010/07/video-wudhu-dan-tayamum.html' title='VIDEO WUDHU DAN TAYAMUM'/><author><name>Pras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03566193034142952335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TF--X6RfBvI/AAAAAAAAAEw/EtWZt7Mav7Q/S220/IMG0053A.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4798153163355951197.post-3959185004885024595</id><published>2010-07-02T09:46:00.000+07:00</published><updated>2010-07-02T09:49:34.463+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tawassul'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tauhid'/><title type='text'>BERSUMPAH DENGAN NAMA SELAIN ALLAH Subhanahu waTa’ala, BERTAWASSUL DAN MEMINTA PERTOLONGAN KEPADA SELAIN ALLAH Subhanahu waTa’ala</title><content type='html'>Kajian Islam :&lt;br /&gt;KITAB TAUHID 3&lt;br /&gt;oleh : Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERSUMPAH DENGAN NAMA SELAIN ALLAH Subhanahu waTa’ala, BERTAWASSUL DAN MEMINTA PERTOLONGAN KEPADA SELAIN ALLAH Subhanahu waTa’ala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Bersumpah dengan Nama Selain Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumpah (الحلـف) adalah penegasan keputusan dengan menyebutkan nama yang diagungkan secara khusus. Sedangkan pengagungan itu adalah hak Allah semata, karena itu tidak dibolehkan bersumpah dengan selainNya. Para ulama secara ijma' (konsensus) menyatakan bahwa sumpah itu tidak dibolehkan kecuali dengan nama Allah Subhanahu waTa’ala atau dengan Asma' dan sifatNya, dan secara ijma’ pula mereka menyatakan dilarangnya bersumpah dengan menyebut nama selain Allah Subhanahu waTa’ala .(1) Bersumpah dengan nama selain Allah adalah syirik, berdasarkan riwayat Ibnu Umar radiyallaahu ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah maka sungguh dia telah kafir atau berlaku syirik."(HR. Ahmad, at-Tir-midzi dan al-Hakim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia termasuk syirik kecil, tetapi jika yang dijadikan sebagai sumpah itu diagungkan oleh orang yang bersumpah sampai ke derajat menyembahnya maka ia adalah syirik besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersumpah adalah pengagungan terhadap yang dijadikan sumpah dan tidak pantas kecuali dengan nama Allah. Oleh karena itu, sumpah dengan nama Allah Subhanahu waTa’ala hendaknya dimuliakan, tidak memperbanyak sumpah denganNya. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:"Dan jagalah sumpahmu." (Al- Ma'idah: 89).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, jangan bersumpah kecuali dalam keadaan membutuhkanya dan dalam keadaan benar serta jujur. Karena memperbanyak sumpah atau berdusta di dalamnya menunjukkan pelecehan terhadap Allah serta tidak mengagungkanNya, dan hal itu menafikan kesempurnaan tauhid. Dalam hadits disebutkan bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلاَ يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ أُشَيْمِطٌ زَانٍ وَعَاثِلٌ مُسْتَكْبِرٌ، وَجَاءَ فِيْهِ: وَرَجُلٌ جَعَلَ اللَّهَ بِضَاعَتَهُ لاَ يَشْتَرِيْ إِلَّا بِيَمِيْنِهِ وَلَا يَبِيْعُ إِلاَّ بِيَمِيْنِهِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tiga orang, yang mereka itu tidak diajak bicara dan tidak disucikan Allah (pada Hari Kiamat) dan mereka menerima adzab yang pedih, yaitu orang yang sudah beruban (tua) yang melakukan zina, orang melarat yang congkak dan orang yang menjadikan Allah sebagai barang dagangannya, ia tidak membeli dan tidak pula menjual kecuali dengan bersumpah." (HR. ath-Thabrani dengan sanad shahih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits di atas memberikan ancaman yang keras terhadap orang yang banyak bersumpah, sesuatu yang menunjukkan haramnya hal tersebut, sebagai bentuk penghormatan terhadap Nama Allah Subhanahu waTa’ala dan pengagungan terhadapNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah pula diharamkan bersumpah dengan nama Allah secara dusta, yakni al-yamin al-ghamus. Dan Allah Subhanahu waTa’ala telah menyifati orang-orang yang munafik bahwasanya mereka itu bersumpah secara dusta, padahal mereka mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hal-hal di atas dapat disimpulkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Haram bersumpah dengan nama selain Allah Subhanahu waTa’ala , seperti bersumpah dengan amanah, Ka'bah atau Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam , dan bahwa semua itu adalah syirik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Haram bersumpah dengan nama Allah Subhanahu waTa’ala secara dusta dengan sengaja, dan itulah yang disebut dengan al-yamin al-ghamus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Haram memperbanyak sumpah dengan nama Allah Subhanahu waTa’ala , meskipun benar, jika hal itu tidak diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dibolehkan bersumpah dengan nama Allah Subhanahu waTa’ala jika benar dan dalam keadaan dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Tawassul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu mendekatkan diri dan berupaya sampai kepada sesuatu, wasilah yaitu keadaan kedekatan, atau apa yang mendekatkan kepada orang lain.&lt;br /&gt;Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:"Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadaNya." (Al-Ma'i-dah: 35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni dengan mentaatiNya dan mengikuti keridhaanNya. Tawassul ada dua macam: Tawassul yang dibolehkan dan tawassul yang tidak dibolehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, tawassul yang dibolehkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawassul yang dibolehkan dan ada beberapa macam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tawassul kepada Allah dengan Asma' dan SifatNya, sebagaimana Allah Subhanahu waTa’ala memerintahkan hal tersebut dalam firmanNya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:"Hanya milik Allah Asma'ul Husna (nama-nama yang indah) maka mohonlah kepadaNya dengan menyebut Asma'ul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) Asma'Nya, nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (Al-A'raf: 180).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tawassul kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan iman dan amal shalih yang dilakukan oleh orang yang bertawassul. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman tentang orang-orang yang beriman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): 'Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,' maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti." (Ali Imran: 193).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana juga terdapat dalam hadits tentang tiga orang yang keruntuhan batu besar sehingga menutup pintu gua (tempat mereka singgah), dan mereka tidak bisa keluar daripadanya, lalu mereka bertawassul dengan amal shalih mereka, sehingga Allah Subhanahu waTa’ala membukanya dan mereka keluar pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tawassul kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan mentauhidkanNya, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yunus ’alaihissalam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:"Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap, 'Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau." (Al-Anbiya': 87).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tawassul kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan menampakkan kelemahan, hajat dan kebutuhan kepada Allah Subhanahu waTa’ala , sebagaimana dikata-kan oleh Ayyub ’alaihissalam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang." (Al-Anbiya' : 83).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tawassul kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan doa orang-orang shalih yang masih hidup. Hal itu sebagaimana ketika para sahabat mengalami kekeringan lalu mereka meminta kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam agar berdoa untuk mereka, dan ketika beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam meninggal, mereka meminta kepada pamannya, Abbas Radiyallaahu ‘anhu, lalu ia pun berdoa untuk mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Tawassul kepada Allah Subhanahu waTa’ala dengan mengakui dosa-dosa.Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:"Musa berdoa, 'Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku'." (Al-Qashash: 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Tawassul yang tidak diperbolehkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawassul yang tidak diperbolehkan ada empat macam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tawassul dengan meminta doa kepada orang mati. Ini tidak boleh. Karena mayit tidak mampu berdoa seperti ketika dia masih hidup. Meminta syafaat kepada orang mati juga tidak dibolehkan. Karena Umar bin al-Khaththab, Mu'awiyah bin Abi Sufyan dan para sahabat yang bersama mereka, juga para tabi'in yang mengikuti mereka dengan baik ketika ditimpa kekeringan mereka memohon diturunkannya hujan, bertawassul dan meminta syafaat kepada orang yang masih hidup, seperti kepada al-Abbas dan Yazid bin al-Aswad Radiyallallahu ‘anhumaa. Mereka tidak bertawassul, meminta syafaat dan memohon diturunkannya hujan melalui Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, baik di kuburan beliau atau dikuburan orang lain, tetapi mereka mencari pangganti (dengan orang yang masih hidup) seperti al-Abbas dan Yazid. Umar bin al-Khaththab radiyallaahu ‘anhu, berkata, "Ya Allah, dulu kami bertawassul kepadaMu dengan NabiMu, sehingga Engkau memberi kami hujan, dan kini kami bertawassul dengan paman Nabi kami, karena itu turunkanlah hujan kepada kami." Mereka menjadikannya sebagai pengganti dalam bertawassul ketika mereka tidak bisa bertawassul dengan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, sesuai dengan yang disyariatkan sebagaimana yang pernah mereka lakukan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sangat mungkin bagi mereka untuk datang ke kuburan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, dan bertawassul dengan beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam, demikian itu jika diperbolehkan. Dan mereka meninggalkan hal tersebut merupakan bukti tidak dibolehkannya bertawassul dengan orang-orang mati, baik dengan meminta doa atau syafaat kepada mereka. Seandainya meminta doa atau syafaat kepada orang mati atau hidup itu sama saja, tentu mereka tidak berpaling kepada orang lain yang lebih rendah derajatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tawassul dengan kedudukan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam atau kedudukan selainnya. Ini tidak boleh. Adapun hadits yang berbunyi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إَذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوْهُ بِجَاهِيْ، فَإِنَّ جَاهِيَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيْمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika kalian memohon kepada Allah maka memohonlah kepadaNya dengan kedudukanku, karena kedudukanku di sisi Allah adalah agung."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits di atas adalah hadits yang didustakan atas nama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan tidak dimuat dalam kitab-kitab umat Islam yang menjadi sandaran, juga tidak seorang ulama pun yang menyebutnya sebagai hadits.( 2) Dan jika tidak ada satu pun dalil shahih tentangnya, maka itu berarti tidak boleh, sebab setiap ibadah tidak dilakukan kecuali berdasarkan dalil yang shahih dan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tawassul dengan dzat makhluk-makhluk. Ini tidak boleh. Sebab jika ba' (اَلْـبَاءُ ) tersebut untuk sumpah maka berarti sumpah dengannya terhadap Allah Subhanahu waTa’ala . Jika sumpah makhluk terhadap makhluk tidak dibolehkan, bahkan syirik, sebagaimana disebutkan dalam hadits, lalu bagaimana sumpah makhluk terhadap al-Khaliq (Sang Pencipta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika ba' tersebut menunjukan sebab (لِلسَّبَبِيَّةِ) maka sungguh Allah tidak menjadikan permohonan kepada makhluk sebagai sebab dikabulkannya doa dan ia tidak mensyariatkan hal tersebut kepada para hambaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tawassul dengan hak makhluk. Ini tidak boleh pula karena dua alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, bahwasanya Allah Subhanahu waTa’ala tidak wajib memenuhi hak atas seseorang (makhluk), tetapi sebaliknya Allah Subhanahu waTa’ala yang menganugerahi hak tersebut kepada makhlukNya sebagaimana firmanNya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:"Dan adalah hak Kami menolong orang-orang yang beriman." (Ar-Rum: 47).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang taat mendapatkan balasan (kebaikan) dari Allah Subhanahu waTa’ala adalah karena anugerah dan nikmat, dan tidak karena balasan setara sebagaimana makhluk kepada makhluk yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, yang dianugerahkan Allah Subhanahu waTa’ala kepada hambaNya adalah hak khusus bagi dirinya dan tidak ada kaitannya dengan orang lain dalam hak tersebut. Jika ada yang bertawassul dengannya, padahal dia bukan yang berhak berarti dia bertawassul dengan perkara asing yang tidak ada kaitannya antara dia dengan hal tersebut, dan tidak bermanfaat untuknya sama sekali.&lt;br /&gt;Adapun hadits yang berbunyi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَسْأَلُكَ بِحَقِّ السَّائِلِيْنَ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku memohon kepadaMu dengan hak orang-orang yang memohon." (HR. Ibnu Majah dan Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ini adalah hadits yang tidak tetap dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, karena di dalam sanadnya terdapat Athiyyah al-Aufi dan ia adalah perawi dha'if yang disepakati kedha'ifannya, demikian seperti yang dikatakan oleh para ahli hadits. Jika demikian halnya, maka tidak bisa dijadikan dalil dalam masalah penting ini, yang termasuk masalah akidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Hukum Isti'anah dan Istighatsah dengan Makhluk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istianah artinya, meminta pertolongan dan dukungan dalam suatu urusan. Sedang istighatsah berarti meminta dihilangkannya kesulitan (kesukaran). Isti'anah dan istighatsah kepada makhluk ada dua macam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, isti'anah dan istighatsah kepada makhluk yang ia mampu melakukannya. Ini dibolehkan berdasarkan firman Allah Subhanahu waTa’ala ,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:"Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa." (Al-Ma'idah: 2).&lt;br /&gt;Dan dalam kisah Musa j Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:"Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya." (Al-Qa-shash: 15).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga seperti seseorang yang meminta bantuan kawan-kawannya dalam peperangan atau lainnya dari hal-hal yang bisa dilakukan oleh makhluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, isti'anah dan istighatsah kepada mahluk dalam hal yang manusia tidak mampu kecuali Allah Subhanahu waTa’ala , sebagaimana istia'anah dan istighatsah kepada orang-orang mati atau isti'anah dan istighatsah terhadap orang dalam hal yang ia tidak mampu kecuali Allah, misalnya dalam menyembuhkan penyakit, menghilangkan kesusahan dan menolak bahaya. Isti'anah dan istighatsah jenis ini tidak dibolehkan bahkan termasuk syirik besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah ada seorang munafik yang menyakiti orang mukminin. Maka sebagian sahabat mengatakan, 'Bangkitlah bersama kami untuk beristighatsah kepada Rasullullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dari orang-orang munafik ini!' Maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّهُ لاَ يُسْتَغَاثُ بِيْ وَإِنَّمَا يُسْتَغَاثُ بِاللَّهِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya istighatsah itu tidak (boleh dimintakan) kepadaku, tetapi istighatsah itu kepada Allah." (HR. ath-Thabrani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dalam perkara yang bisa dilakukan oleh Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam hidupnya itu dijawab demikian, maka bagaimana pula dengan istighatsah kepada beliau setelah beliau wafat, serta dimintai perkara-perkara yang beliau Shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak mampu kecuali Allah Subhanahu waTa’ala ? Dan jika hal tersebut tidak boleh dilakukan terhadap Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam, tentu orang lain lebih tidak pantas lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;parent_id=2394&amp;parent_section=kj076&amp;idjudul=2359&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4798153163355951197-3959185004885024595?l=belajarislam-pras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/3959185004885024595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/3959185004885024595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/2010/07/bersumpah-dengan-nama-selain-allah.html' title='BERSUMPAH DENGAN NAMA SELAIN ALLAH Subhanahu waTa’ala, BERTAWASSUL DAN MEMINTA PERTOLONGAN KEPADA SELAIN ALLAH Subhanahu waTa’ala'/><author><name>Pras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03566193034142952335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TF--X6RfBvI/AAAAAAAAAEw/EtWZt7Mav7Q/S220/IMG0053A.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4798153163355951197.post-3521933352986258740</id><published>2010-07-02T09:43:00.000+07:00</published><updated>2010-07-20T11:29:05.757+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tauhid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ahlul bait'/><title type='text'>KEUTAMAAN AHLUL BAIT DAN KEWAJIBAN KEPADA MEREKA TANPA MENGURANGINYA ATAU BERLEBIH-LEBIHAN</title><content type='html'>Kajian Islam :&lt;br /&gt;KITAB TAUHID 3&lt;br /&gt;oleh : Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEUTAMAAN AHLUL BAIT DAN KEWAJIBAN KEPADA MEREKA TANPA MENGURANGINYA ATAU BERLEBIH-LEBIHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahlul bait adalah keluarga Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang diharamkan bagi mereka untuk menerima shadaqah (zakat). Mereka adalah keluarga Ali radiyallaahu ‘anhu, keluarga Ja'far, keluarga Aqil, keluarga al-Abbas, keturunan al-Harits bin Abdil Muththalib serta isteri-isteri Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan putera-puteri beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu berdasarkan firman Allah Subhanahu waTa’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: "Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (Al-Ahzab: 33).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, "Sesuatu yang tidak diragukan lagi dari perenungan terhadap al-Qur'an adalah bahwa isteri-isteri Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam itu termasuk dalam firmanNya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: "Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." (Al-Ahzab: 33).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab pembicaraan masalah tersebut berkaitan dengan mereka. Karena itu Allah Subhanahu waTa'ala berfirman sesudahnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: "Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu)." (Al-Ahzab: 34).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, amalkanlah apa yang diturunkan Allah Subhanahu waTa’ala kepada RasulNya shallallaahu ‘alaihi wasallam di rumah kalian, baik al-Qur'an maupun as-Sunnah. Demikian sebagaimana dikatakan oleh Qatadah dan lainnya. Lalu ingatlah nikmat yang diberikan Allah Subhanahu waTa’ala khusus kepada kalian di antara manusia. Dan bahwasanya wahyu itu diturunkan Allah Subhanahu waTa’ala di rumah kalian, tidak di rumah orang lain. Dan Aisyah binti Abu Bakar radiyallaahu ‘anhaa adalah yang paling utama dari mereka dengan nikmat tersebut serta yang paling istimewa menerima rahmat yang banyak tersebut. Sebab tidak pernah turun wahyu kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam di tempat tidur perempuan selain tempat tidur Aisyah radiyallaahu ‘anhu. Demikian seperti disebutkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam . Sebagian ulama mengatakan, hal itu karena Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak menikah dengan gadis selainnya dan tidak ada laki-laki lain yang tidur di tempat tidurnya selain beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam (maksudnya, Aisyah radiyallaahu ‘anhaa tidak menikah dengan selain Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam ). Karena itu, adalah tepat jika Aisyah radiyallaahu ‘anhu dikhususkan dengan keistimewaan dan kedudukan yang tinggi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, jika para isteri Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam adalah termasuk keluarga (ahlul bait) Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam maka para kerabatnya lebih berhak untuk mendapatkan sebutan ahlul bait. Demikian sebagaimana ditulis dalam Tafsir Ibnu Katsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahlus sunnah wal Jamaah mencintai Ahlul bait Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam , setia kepada mereka dan selalu menjaga wasiat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang diucapkannya pada hari Ghadir Khum (nama tempat):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِيْ أَهْلِ بَيْتِيْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mengingatkan kalian kepada Allah dalam hal ahli baitku." (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahlus Sunnah wal Jama'ah mencintai ahlul bait dan memuliakan mereka, sebab hal itu termasuk kecintaan terhadap Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam . Tetapi hal itu harus dengan syarat bahwa mereka mengikuti sunnah dan berada dalam agama yang lurus. Sebagaimana para salaf mereka seperti al-Abbas dan putra putrinya serta Ali radiyallaahu ‘anhu dan putra putrinya. Adapun mereka yang menyelisihi sunnah dan tidak berada dalam agama yang lurus, maka kita tidak boleh setia kepada mereka, meskipun mereka itu termasuk ahlul bait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sikap Ahlus Sunnah wal Jamaah terhadap ahlul bait adalah sikap adil dan inshaf (lurus/jalan tengah). Mereka setia kepada ahlul bait yang berpegang teguh pada agama dan lurus dengannya, serta berlepas diri dari yang menyelisihi sunnah dan berpaling dari agama, meskipun ia termasuk ahlul bait keberadaannya sebagai ahlul bait dan kedekatannya dengan Rasul shallallaahu ‘alaihi wasallam dari sisi kekerabatan sungguh tidak bermanfaat sedikit pun untuknya, sampai ia berada pada agama yang lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Hurairah radiyallaahu ‘anhu meriwayatkan, "Ketika diturunkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ayat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat." (Asy-Syu'ara': 214).&lt;br /&gt;Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ -أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا- اِشْتَرُوْا أَنْفُسَكُمْ لاَ أُغْنِيْ عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، يَا عَبَّاسُ ابْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لاَ أُغْنِيْ عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، يَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُوْلِ اللَّهِ لاَ أُغْنِيْ عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِيْنِيْ مَاشِئْتِ مِنْ مَالِيْ لاَ أُغْنِيْ عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا.&lt;br /&gt;[p[] "Wahai segenap kaum Quraisy! -atau kalimat sejenis-, belilah diri kalian sendiri, sesungguhnya aku tidak berguna sama sekali bagi kalian di hadapan Allah. Wahai Abbas bin Abdul Muththalib! Sesungguhnya aku tidak berguna sama sekali bagimu di hadapan Allah. Wahai Shafiyyah, bibi Rasulullah! Sesungguhnya aku tidak berguna sama sekali bagimu di hadapan Allah. Wahai Fathimah binti Muhammad! Mintalah kepadaku harta bendaku sesukamu, tetapi sesungguhnya aku tidak berguna sama sekali bagimu di hadapan Allah." (HR. al-Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa amalnya lambat, maka nasabnya tidak bisa mempercepat amalnya." (HR.Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam hal ini, juga dalam hal-hal lain selalu berada dalam manhaj yang adil dan jalan yang lurus, tidak meremehkan juga tidak berlebih-lebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;parent_id=2417&amp;parent_section=kj076&amp;idjudul=2359&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4798153163355951197-3521933352986258740?l=belajarislam-pras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/3521933352986258740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/3521933352986258740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/2010/07/keutamaan-ahlul-bait-dan-kewajiban.html' title='KEUTAMAAN AHLUL BAIT DAN KEWAJIBAN KEPADA MEREKA TANPA MENGURANGINYA ATAU BERLEBIH-LEBIHAN'/><author><name>Pras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03566193034142952335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TF--X6RfBvI/AAAAAAAAAEw/EtWZt7Mav7Q/S220/IMG0053A.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4798153163355951197.post-6919854182071888842</id><published>2010-07-02T09:37:00.000+07:00</published><updated>2010-07-02T09:39:11.412+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='karomah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tauhid'/><title type='text'>MADZHAB SALAF MENGENAI KAROMAH PARA WALI</title><content type='html'>Kajian Islam :&lt;br /&gt;KITAB TAUHID 3&lt;br /&gt;oleh : Dr.Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MADZHAB SALAF MENGENAI KAROMAH PARA WALI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara prinsip dasar Akidah Ahlussunah wal jama'ah adalah meyakini dan membenarkan adanya karomah bagi para wali Allah Subhanahu waTa’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karomah adalah hal atau peristiwa luar biasa (khawariqul 'adah) yang diberikan oleh Allah Subhanahu waTa’ala kepada para waliNya. Karomah itu adalah merupakan perkara yang terjadi di luar kebiasaan, tidak biasa bagi manusia biasa.&lt;br /&gt;Auliya' adalah bentuk jamak (plural) dari kata waliy, yaitu orang mukmin yang bertakwa, sebagaimana ditegaskan di dalam firmanNya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: "Ingatlah, bahwa sesungguhnya para wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa." (Yunus: 62-63).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebut waliy adalah sebagai pecahan dari kata al-wala' yang berarti cinta dan kedekatan. Maka yang disebut waliyullah itu adalah siapa saja yang mencintai Allah Subhanahu waTa’ala dengan cara mematuhi segala apa saja yang dicintaiNya dan bertaqarrub (mendekatkan diri) kepadanya dengan menjalankan apa saja yang Dia ridhai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pembagian Kelompok Manusia Mengenai Karomah Para Wali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhadap masalah Karomah para wali ini, manusia terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok pertama: Orang-orang yang menafikan atau tidak mempercayainya, seperti Mu'tazilah, Jahmiyah dan sebagian kelompok di dalam sekte Asya'irah. Syubhat atau alasan mereka adalah bahwasanya jikalau hal-hal khawariq (peristiwa-peristiwa luar biasa) boleh terjadi pada para wali niscaya tidak bisa dibedakan antara nabi dengan lainnya, sebab perbedaan antara seorang nabi dengan lainnya itu adalah mukjizat yang merupakan hal atau peristiwa di luar kebiasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok kedua: Orang-orang yang ekstrem atau berlebihan di dalam menetapkan dan meyakini Karomah. Mereka berasal dari kelompok Tarekat Sufi dan Quburiyyin (pemuja kuburan), mereka datang kepada manusia dengan menampakkan khawariq syaithani (hal-hal yang bersifat di luar kebiasaan namun berasal dari setan), seperti anti bakar, anti bacok, menaklukkan ular berbisa dan perilaku-perilaku aneh lainnya yang diklaim oleh pemuja kuburan (quburiyyun) yang mereka sebut khawariq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok ketiga: Orang-orang yang beriman dan meyakini adanya karomah para wali berdasarkan petunjuk al-Qur'an dan Sunnah. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Ahlus Sunnah memberikan tanggapan terhadap orang-orang yang tidak meyakininya dengan dalil dan hujjah man'ul isytibah (tidak ada kekaburan) antara nabi dengan lainnya. (Mereka menjelaskan) bahwasanya, ada perbedaan-perbedaan besar antara para nabi dengan lainnya, yang tidak khawariqul 'adat, dan bahwasanya wali tidak mendakwakan kenabian. Dan kalau sekiranya ia mendakwakan kenabian, niscaya keluar dari wilayah kewalian dan menjadi pendakwa dusta, bukan seorang wali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan adalah termasuk sunnatullah terungkapnya kepalsuan si pendusta, sebagaimana terjadi pada sang pendusta Musailamah dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahlus Sunnah juga memberikan tanggapan terhadap orang-orang yang ekstrem di dalam menetapkan dan meyakini karomah. Mereka (menjelaskan bahwa khawariq syaithani) itu adalah perbuatan para tukang tenung dan dajjal. Mereka bukan para wali Allah Subhanahu waTa’ala, melainkan para wali setan, dan yang terjadi pada mereka tiada lain adalah kedustaan dan perbuatan dajjal atau fitnah bagi mereka dan lainnya dan sebagai istidraj.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam masalah ini mempunyai kitab yang sangat berharga, namanya adalah al-Furqan Baina Auliya' ar-Rahman wa Auliya' asy-Syaithan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Macam-macam Karomah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karomah itu ada yang berwujud pengetahuan dan kasyf (mengetahui rahasia ghaib), seperti dapat mendengar sesuatu yang tidak dapat didengar oleh selain dia, atau dapat melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat orang lain, baik dalam keadaan jaga maupun tidur, atau mengetahui apa yang tidak diketahui oleh orang lain. Karomah juga ada yang berwujud kemampuan dan dapat mempengaruhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh untuk macam yang pertama adalah ucapan Umar bin al-Khaththab radiyallaahu ‘anhu, "Wahai pasukan, (berlindunglah) ke balik bukit." Pada saat itu beliau berada di Madinah, sedangkan pasukan berada di bukit di daerah Masyriq (negeri Syam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga pemberitaan yang dilakukan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq radiyallaahu ‘anhu bahwa bayi yang berada dalam kandungan istrinya adalah perempuan. Juga berita yang disampaikan oleh Umar bin al-Khaththab radiyallaahu ‘anhu tentang orang yang akan lahir dari anak keturunannya menjadi seorang yang adil, dan juga kisah tentang orang yang menemani nabi Musa ’alaihissalam dan pengetahuannya tentang kondisi pemuda laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan contoh untuk macam yang kedua, yaitu kisah tentang orang yang mempunyi pengetahun tentang al-Kitab, ia dapat membawa singgasana milik Ratu Balqis kepada Nabi Sulaiman ’alaihissalam, kisah Ashabul kahfi, kisah Maryam dan kisah Khalid bin al-Walid yang minum racun tetapi tidak terjadi bahaya pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara Karomah yang disebutkan di dalam al-Qur'an adalah yang dijelaskan tentang kehamilan Maryam tanpa melalui hubungan dengan laki-laki manapun, apa yang disebutkan di dalam surah al-Kahfi tentang Ashabul Kahfi, kisah orang shalih yang mendampingi nabi Musa dan kisah tentang Dzul Qarnain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara contoh karomah yang disebutkan dengan sanad-sanad shahih dari para sahabat dan kaum Tabi'in adalah seperti Umar bin al-Khaththab radiyallaahu ‘anhu dapat melihat pasukan kaum muslimin padahal ia sedang berada di atas mimbar di Madinah dan pasukan sedang berada di Nahawan di wilayah Masyriq, di mana pada saat itu beliau menyerukan kepada pasukan itu, "Wahai pasukan, (berlindunglah ke balik) bukit." Pasukan itu pun mendengarnya dan dapat memahami arahan dari Umar sehingga dapat selamat dari tipu muslihat musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karomah tetap ada pada umat ini hingga hari kiamat kelak selagi kewaliyan dengan syarat-syaratnya masih ada pada mereka. Para wali Allah Subhanahu waTa’ala itu adalah orang-orang yang bertakwa dan beriman, mereka tidak mengklaim kewalian dan kewalian mereka tidak membuat mereka meninggalkan sedikitpun dari kewajiban-kewajiban agama dan tidak bertentangan dengan ajaran agama. Wallahu a'lam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihatkajian&amp;parent_id=2492&amp;parent_section=kj076&amp;idjudul=2359&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4798153163355951197-6919854182071888842?l=belajarislam-pras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/6919854182071888842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/6919854182071888842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/2010/07/madzhab-salaf-mengenai-karomah-para.html' title='MADZHAB SALAF MENGENAI KAROMAH PARA WALI'/><author><name>Pras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03566193034142952335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TF--X6RfBvI/AAAAAAAAAEw/EtWZt7Mav7Q/S220/IMG0053A.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4798153163355951197.post-7953432101730524026</id><published>2010-07-01T00:27:00.000+07:00</published><updated>2010-07-01T10:30:42.860+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hadits Dha&apos;if'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hadits Masyhur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hadits'/><title type='text'>Silsilah Hadits-Hadits Masyhur (yang sering diucapkan atau didengar)</title><content type='html'>Silsilah Hadits-Hadits Masyhur (yang sering diucapkan atau didengar)&lt;br /&gt;Senin, 12 April 04 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukaddimah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan HADITS MASYHUR disini bukan sebagaimana definisinya di dalam Ilmu Mushthalah Hadits, yaitu hadits yang merupakan bagian dari hadits Ahad dan mata rantai periwayatnya dari jenjang pertama hingga terakhir (pengarang buku) berjumlah 3 sampai 9 orang pada setiap levelnya. Akan tetapi yang dimaksud disini adalah Hadits-hadits yang masyhur (tersohor) karena sering diucapkan oleh lisan atau sering didengar, terutama oleh para penceramah. Alias sudah menjadi buah bibir dan disampaikan dari mulut ke mulut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, para ulama banyak yang menulis buku jenis ini karena sangat penting sekali diketahui oleh umat. Hadit-hadits yang ada di dalamnya bervariasi baik dari aspek kualitas maupun tema dimana ia sering dibicarakan orang dan didengar. Masalahnya, ketika seseorang mengucapkannya atau menukilnya, dia seakan mengatasnamakan Rasulullah alias bahwa ia adalah sabda beliau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, hal ini amat berbahaya bagi umat karenanya para ulama hadits mengantisipasinya dengan mengarang buku jenis ini hingga dapat memudahkan umat di dalam mencari hadits-hadits yang kira-kira sering diucapkan dan didengar tersebut, terkadang menyatakan kualitasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HADITS PERTAMA &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. أَبْرِدُوْا بِالطَّعَامِ فَإِنَّ الْحَارَّ لاَ بَرَكَةَ فِيْهِ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dinginkanlah makanan, sebab (makanan) yang panas itu tidak ada berkahnya” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUMBER HADITS: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits tersebut diriwayatkan oleh ad-Daylamy dari Ibnu ‘Umar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KUALITAS HADITS: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah ‘HADITS DLA'IF’ (Lemah) &lt;br /&gt;Tentang kelemahan hadits ini juga disebutkan di dalam buku-buku berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;al-Maqâshid al-Hasanah Fî Bayân Katsîr Min al-Ahâdîts al-Musytahirah ‘Alâ al-Alsinah, karya Imam as-Sakhâwy, hal. 11 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamyîz ath-Thayyib min al-Khabîts Fî m6a yadûru ‘alâ Alsinah an-Nâs Min al-Hadîts, karya ‘Abdurrahman bin ‘Aly bin ad-Dîba’, hal. 5 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasyf al-Khafâ’ wa Muzîl al-Ilbâs ‘Ammâ Isytahara Min al-Ahâdîts ‘Alâ Alsinah an-Nâs, karya al-‘Ajlûny, Jld I, hal. 28 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dla’îf al-Jâmi’ wa Ziyâdatuhu, karya Syaikh al-Albany, no. 37 &lt;br /&gt;TEMA HADITS: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sementara orang yang memberikan nasehat agar jangan melumat makanan yang masih panas tetapi perlu ditunggu dulu hingga adem/dingin sehingga tidak membahayakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila sebatas alasan tersebut, maka tidak ada masalah selama tidak menggunakan hadits diatas sebagai dalilnya trus meyakininya. Realitasnya, ada sementara orang pula yang berdalih dengan hadits diatas bahwa makanan yang panas itu tidak memiliki BERKAH padahal kualitas hadits tersebut ‘DLA’IF alias LEMAH… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama sepakat bahwa HADITS DLA’IF tidak dapat dijadikan hujjah kecuali di dalam masalah ‘Fadlâ’-il al-A’mâl’ dimana mereka masih berselisih pendapat tentang ‘kebolehan’ menggunakan hadits DLA’IF terhadap masalah tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat yang rajih/kuat dan berkenan di hati adalah berlaku secara umum, artinya semua hadits DLA’IF tidak dapat dijadikan sebagai hujjah selama tidak ada pendukung lain yang menguatkan dan mengangkat statusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Diambil dari buku ‘ad-Durar al-Muntatsirah Fî al-Ahâdîts al-Musytahirah’, karya Imam as-Suyuthy, (tahqiq/takhrij hadits oleh Syaikh Muhammad Luthfy ash-Shabbagh), hal. 74, hadits no. 51 dengan beberapa penambahan) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: 1. http://www.alsofwah.or.id/?pilih=lihathadits&amp;id=44 &lt;br /&gt;        2. Hadits Web : http://opi.110mb.com/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4798153163355951197-7953432101730524026?l=belajarislam-pras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/feeds/7953432101730524026/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4798153163355951197&amp;postID=7953432101730524026&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/7953432101730524026'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/7953432101730524026'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/2010/06/silsilah-hadits-hadits-masyhur-yang.html' title='Silsilah Hadits-Hadits Masyhur (yang sering diucapkan atau didengar)'/><author><name>Pras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03566193034142952335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TF--X6RfBvI/AAAAAAAAAEw/EtWZt7Mav7Q/S220/IMG0053A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4798153163355951197.post-9073185957374461469</id><published>2010-05-25T10:50:00.000+07:00</published><updated>2010-05-25T10:50:11.170+07:00</updated><title type='text'>Tata Cara Mandi Wajib</title><content type='html'>&lt;a href="http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tata-cara-mandi-wajib.html"&gt;Tata Cara Mandi Wajib&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4798153163355951197-9073185957374461469?l=belajarislam-pras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tata-cara-mandi-wajib.html' title='Tata Cara Mandi Wajib'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/9073185957374461469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/9073185957374461469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/2010/05/tata-cara-mandi-wajib.html' title='Tata Cara Mandi Wajib'/><author><name>Pras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03566193034142952335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TF--X6RfBvI/AAAAAAAAAEw/EtWZt7Mav7Q/S220/IMG0053A.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4798153163355951197.post-5696955244393513125</id><published>2009-10-16T13:09:00.000+07:00</published><updated>2009-10-16T14:17:49.405+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syirik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tauhid'/><title type='text'>Dalil-dalil Al-qur'an seputar kemusyrikan</title><content type='html'>&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. ( Qs. 4 : 48 )&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. ( Qs. 4 : 116 )&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. ( Qs. 39 : 65 )&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar". ( Qs. 31 :13 )&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. ( Qs. 6 : 88 )&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. ( Qs. 6 : 82 )&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. ( Qs. 98 : 2 ).&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu" Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun. ( Qs. 5 : 2 )&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الأكْبَرِ أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ فَإِنْ تُبْتُمْ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ غَيْرُ مُعْجِزِي اللَّهِ وَبَشِّرِ الَّذِينَ كَفَرُوا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dan (inilah) suatu permakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. Kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertobat, maka bertobat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. ( Qs. 9 : 3 )&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam. ( Qs. 9 : 113 )&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَلا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُون&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. ( Qs. 2 : 221 )&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang lalim. ( Qs. 5 : 151 )&lt;/p&gt;&lt;p align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لا يَسْتَكْبِرُونَ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. ( Qs. 5 : 2 )&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Insya allah akan bersambung tentang sebab-sebab kemusyrikan berdasarkan dalil / nash al-qur'an.&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Ma'raji :&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Al-qur'anul Karim.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Modul Ma'had Al-hidayah Cabang Cikande Serang Semester Pertama Oleh Ustd. Abu Bakar Shidiq " Dalil-dalil al-qur'an dan Hadits "&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4798153163355951197-5696955244393513125?l=belajarislam-pras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/5696955244393513125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/5696955244393513125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/2009/10/dalil-dalil-al-quran-seputar.html' title='Dalil-dalil Al-qur&apos;an seputar kemusyrikan'/><author><name>Pras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03566193034142952335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TF--X6RfBvI/AAAAAAAAAEw/EtWZt7Mav7Q/S220/IMG0053A.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4798153163355951197.post-3132021645827077805</id><published>2009-08-25T09:58:00.001+07:00</published><updated>2010-07-20T11:29:05.760+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ramadhan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='I&apos;tikaf'/><title type='text'>BAGAIMANAKAH HUKUM I’TIKAF ?</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;I’tikaf adalah berdiam diri didalam masjid untuk mengkhususkan ketaatan kepada Allah SWT, perbuatan ini disunnahkan untuk mencari malam lailatul qadr, Allah telah mengisyaratkannya didalam Al-qur’an dengan firman-Nya :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid.”&lt;br /&gt;( Qs. Al-Baqarah / 2: 187 ).&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Telah diriwayatkan dalam da kitab shahih ( Bikhari dan Muslim ) dan selain keduanya bahwa Nabi SAW melakukan I’tikaf, para shahabat juga beri’tikaf bersama beliau &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);font-size:78%;" &gt;1&lt;/span&gt; ,I’tikaf tetap disyari’atkan tidak dihapuskan, didalam dua kitab Shahih dari Aisyah dia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;كَا نَ يَعْتَكِفُ اَلعَشْرَ الأَ وَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَ فَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ Nabi saw melakukan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan ramadhan sampai Allah Azza wa jalla mewafatkan beliau, kemudian istri-istri beliau melanjutkan sepeninggalnya”&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);font-size:78%;" &gt;2&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);font-size:78%;" &gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab shahih Muslim dari Abu Said Al-Khudry Ra.bahwa Nabi saw melakukan i’tikaf sepuluh hari pertama dari Ramadhan, kemudian beri’tikaf pada sepiuluh hari pertengahan kemudian beliau bersabda, “ Sesungguhnya aku beri'tikafpada sepuluh hari pertama karena ingin mencari dan mendapatkan laitul qadr ini lalu aku beri’tikaf lagi pada sepuluh hari pertengahan , lalu aku dating dan dikatakan kepadaku, &lt;em&gt;“ Sesungguhnya dia ( laitul qadr ) ada disepuluh hari yang terakhir maka barangsiapa yamg suka beri’tikaf diantara kalian&lt;/em&gt; &lt;em&gt;hendaknya beri’tikaf”&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);font-size:78%;" &gt;3&lt;/span&gt;.&lt;/em&gt; Lalu para manusia pun beri’tikaf bersama beliau. Imam Ahmad rah berkata “ Saya tidak mengetahui ada satupun ulama yang brselisih bahwa I’tikaf merupakan amalan yang disunnahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar ini maka I’tikaf menjadi sunnah berlandaskan ketetapan syari’at dan ijmak ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat pelaksanaannya adalah masjid yang ditegakkan didalamnya jamaah didaerah manapun juga, sesuai dengan keumuman firman Allah swt :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِد&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;ِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;em&gt;“sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid.”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Yang paling baik adalah dilakukan dimasjid yang disitu ditegakkan Sholat Jum’at agar dia tidak perlu keluar untuk menunaikan sholat Jum’at, apabila ia beri’tikaf dimasjid yang tidak dipakai sholat Jum’at maka tidak mengapa dia keluar untuk melaksanakan Sholat jum’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang beri’tikaf sebaiknya menyibukkan dirinya dengan segala amal ketaatan kepada Allah berupa sholat , membaca Al-Qur’an dan dzikrullah sebab itulah maksud dari I’tikaf, tidak mengapa dia berbincang dengan temannya sebentar, terutama jika perbincangan itu mendatangkan manfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharamkan bagi orang yang I’tikaf berjimak dan segala perbuatan yang mengarah kesana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun mengenai keluarnya orang yang I’tikaf dari masjid, para ahli fiqih membaginya menjadi tiga bagian .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian pertama :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh, yakni keluar untuk yang diharuskan secara syari’at, atau tabiat kemanusiaan, seperti keluar untuk menjalankan sholat jum’at, makan, minum, jika tidak ada orang yang memberinya kedua hal itu, keluaruntuk berwudhu, mandi wajib ( janabat ) dan untuk buang air kecil maupun buang air besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian kedua :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar untuk mengerjakan amalan yang tidak wajib seperti menengok orang sakit, menghadiri pengurusan jenazah, jika dia mensyaratkannya diawal I’tikaf maka hal itu boleh dilakukan, jika tidak maka tidak boleh dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian ketiga :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluar untuk melakukan perbuatan yang melenyapkan amalan I’tikaf seperti pulang kerumah atau tempat berjualan (toko), menyetubuhi istrinya dan hal-hal sejenisnya, ini tidak boleh dilakukan, baik denga syarat sebelumnya maupun tanpa syarat. Allahlah yang Memberi Petunjuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambil dari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAJMU’ FATAWA Syaikh Muhammad bin shalih al –Utsaimin.&lt;br /&gt;Pustaka Arafah, Cetakan 1 : Rabi’ul awwal 1423 H / agustus 2002.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;Diriwayatkan oleh Bukhari : Kitab I’tikaf / Bab I’tikaf ( 2036 )&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;Diriwayatkan oleh Bukhari : Kitab I’tikaf / Bab I’tikaf di sepuluh hari terakhir ( 2026 ), dan Muslim : Kitab I’tikaf / Bab I’tikaf pada sepuluh hari terakhir dibulan ramadhan ( 1172 ).&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;Ditakhrij oleh Al Bukhari : Kitabul I’tikaf / bab I’tikaf Fiel Ashril awakhir ( 2027 )&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Download :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/6195671/Itikaf.pdf.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/6195671/Itikaf.pdf.html&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/6195672/itikaf.doc.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/6195672/itikaf.doc.html&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://www.pulsagram.com/?id=CC053231"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4798153163355951197-3132021645827077805?l=belajarislam-pras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/3132021645827077805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/3132021645827077805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/2009/08/bagaimanakah-hukum-itikaf.html' title='BAGAIMANAKAH HUKUM I’TIKAF ?'/><author><name>Pras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03566193034142952335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TF--X6RfBvI/AAAAAAAAAEw/EtWZt7Mav7Q/S220/IMG0053A.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4798153163355951197.post-4720873114794835532</id><published>2009-08-24T09:20:00.000+07:00</published><updated>2009-08-28T10:53:35.583+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sifat-Sifat Allah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Al-aqidah al Wasithiyah'/><title type='text'>ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA SETIAP MALAM 1</title><content type='html'>&lt;p&gt;Dan ini seperti sabda Rasulullah Saw :&lt;br /&gt;“Rabb kami turun ke langit dunia ketika tinggal sepertiga malam yang akhir dan berfirman: “ Barang siapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan doanya, barang siapa yang minta akan Aku berikan permintaannya yang memohon ampun akan Aku ampunkan dia.” ( Muttafaq’alaih).2 &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hadits ini telah masyhur dalam kitab-kitab shahih, sunnah dan musnad, dan sekarang disepakati tentang diterimanya dan dibenarkannya dikalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahkan diantara kaum Muslimin yang belum dirusak oleh bid’ah, yangmereka mengetahui dengannya tentang keagungan Rabb mereka, luas pemberian-Nya dan perhatian-Nya kepada hamba-Nya, serta penanganan-Nya terhadap semua kebutuhan agama dan dunia hamba-Nya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Turunnya Allah secara hakikat menurut apa yang Ia kehendaki. Ahlus Sunnah menetapkan tentang turunnya Allah kelangit dunia sebagaimana merka menetapkan seluruh sifat yang telah tetap dalam Al-Qur’an dan As-sunnah. Mereka menahan diri dari menanyakan tentang kaifiatnya, yaitu tidak menyerupakan dengan makhluk-Nya, tidak menafikan ( meniadakan ) sifat-Nya, tidak mengingkari-Nya, dan mereka ( Ahlus Sunnah ) berkata: “ Sesungguhnya Rasulullah tidak mengabarkan kepada kita, bagaimana turun-Nya dan kita mengetahui bahwa Allah itu berbuat apa yang Ia ungunka dan Allah berkuasa atas segala sesuatu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu orang-orang yang termuka dari kaum muslimin, mereka mencari waktu yang mulia ini untuk mendapatkan karunia dan pemberian-Nya, mereka melaksanakan ibadah kepada Allah dengan tunduk dan khusyu’ serta berdoa dengan merendah diri, mengharapkan dari Allah apa yang telah dijanjikan kepada mereka atas lisan Rasul-Nya. Mereka tahu bahwa janji Allah itu benar. Mereka takutdoanya tidak dikabulkan dikarenakan perbuatan dosa dan maksiat yang mereka lakukan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menyatukan antara Khauf ( rasa takut ) dan raja’ ( mengharap ) dalam beribadah kepada-Nya Mereka mengetahui kesempurnaan nikmat allah atas mereka sehingga hati mereka penuh denga pengagungan dan keimanan kepada Rabb mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ringkasan Syarah Kitab Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Pustaka Darul Haq&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Abul Harits Al-Halabiy Al-Atsari, Ali Hasan Ali Abdul Hamid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pensyarah : Al-Allamatuusy-Syaikh Abdurrahman bin Nasjir As-Sa’di rah.&lt;br /&gt;( Wafat Th 1376 H )&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Penetapan judul dari setiap hadits diambil dari Syarah Al-aqidah Al-wasithiyah, Dr. Shalih Fauzan Syarah Wasithiyah, Said bin Ali bin Wahf al-Qahthani dan Syarah Khalil Haras, tahqiq Saqqaf.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;HR. Al-Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758. Dari sahabat Abu Hurairah, dalam bab ini diriwayatkan juga darir beberapa shahabat. Imam Ad-Daruquthni, mengumpulkan hadits-hadits Nuzulul dalam kitab tersendiri. Judulnya Kitabun Nuzul yang ditahqiq oleh Dr. ali bin Nashir Al-Faqihi hafidzahullah. ( hal 49 ).&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;Download Pdf:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a class="normal12blue" href="http://www.ziddu.com/download/6179465/Allahturunkelangitdunia.pdf.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/6179465/Allahturunkelangitdunia.pdf.html&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://www.pulsagram.com/?id=CC053231"&gt;&lt;img border="0" src="http://www.pulsagram.com/images/banner2.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4798153163355951197-4720873114794835532?l=belajarislam-pras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/4720873114794835532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/4720873114794835532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/2009/08/allah-turun-ke-langit-dunia-setiap.html' title='ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA SETIAP MALAM 1'/><author><name>Pras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03566193034142952335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TF--X6RfBvI/AAAAAAAAAEw/EtWZt7Mav7Q/S220/IMG0053A.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4798153163355951197.post-9067165131214131856</id><published>2009-08-18T15:37:00.001+07:00</published><updated>2010-07-20T11:29:05.763+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ibadah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sholat'/><title type='text'>Sholat</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;بسم اللّه الرّ حمن الرّ حيم&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Firman Alloh Swt:&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Artinya : dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah sholat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah (Qs Ar-rum/30:31).&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Artinya : Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan sholat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi atau pun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan. ( Qs Ibrahim/14 : 31 ).&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Banyak sekali perintah dari Al-qur'an maupun hadist Rasulullah Saw untuk mendirikan Sholat.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Untuk mempelajari tata cara Sholat sebagaimana Nabi SAW silahkan download file-file dibawah ini :&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Sholat pdf:&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/5925653/SHOLAT.rar.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/5925653/SHOLAT.rar.html&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Sifat sholat nabi Syaikh Al-albani rahimahullah : &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/6097606/Sifat_Sholat_Nabi.rar.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/6097606/Sifat_Sholat_Nabi.rar.html&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Poster Sholat FATAWA : &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/6097605/PosterTataCaraShalat.rar.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/6097605/PosterTataCaraShalat.rar.html&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Semoga bermanfaat.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Bisnis Pulsa ?? &lt;a href="http://www.pulsagram.com/?id=CC053231"&gt;http://www.pulsagram.com/?id=CC053231&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://www.pulsagram.com/?id=CC053231"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4798153163355951197-9067165131214131856?l=belajarislam-pras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/feeds/9067165131214131856/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4798153163355951197&amp;postID=9067165131214131856&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/9067165131214131856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/9067165131214131856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/2009/08/sholat.html' title='Sholat'/><author><name>Pras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03566193034142952335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TF--X6RfBvI/AAAAAAAAAEw/EtWZt7Mav7Q/S220/IMG0053A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4798153163355951197.post-5472728717923091079</id><published>2009-08-10T08:52:00.001+07:00</published><updated>2010-07-20T11:29:05.766+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Thoghut'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ibadah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syirik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tauhid'/><title type='text'>Tauhid ( Hakikat dan Kedudukannya )</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;Firman Allah s.w.t.:&lt;br /&gt;“Tidak Aku ciptakan jin dan Manusia melainkan hanya untuk beribadah[1] kepada-Ku.” (QS. Adz -Dzariyat/51 : 56).&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan) "Beribadalah kepada Allah (saja) dan jauhilah thoghut.”[2] (QS. An - Nahl/16: 36).&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapamu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (QS. Al - Isra', 23- 24).&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmua, iaitu " Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu, dan janganlah kamu membunuh anak anak kamu kerana takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan perbuatan yang keji, baik yang nampak diantaranya mahupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun dia adalah kerabat(mu). Dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. Dan bahawa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), kerana jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al - An'am/6:151- 153).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas'ud r.a. berkata: "Barang siapa yang ingin melihat wasiat Muhammad s.a.w. yang tertera di atasnya cincin stempel milik beliau, maka supaya membaca firman Allah s.w.t.: "Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, iaitu "Janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepadaNya, dan "Sungguh inilah jalan-Ku berada dalam keadaan lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan yang lain. [3] "&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="left"&gt;Mu'adz bin Jabal r.a. berkata:&lt;br /&gt;"Aku pernah diboncengkan Nabi s.a.w. di atas keledai, kemudian beliau berkata kepadaku: " wahai muadz, tahukah kamu apakah hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hambaNya, dan apa hak hamba-hambaNya yang pasti dipenuhi oleh Allah?, Aku menjawab: "Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui", kemudian beliau bersabda: "Hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hambaNya ialah hendaknya mereka beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, sedangkan hak hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah ialah bahawa Allah tidak akan menyiksa orang orang yang tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, lalu aku bertanya: ya Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepada orang-orang?, beliau menjawab: "Jangan engkau lakukan itu, kerana khuwatir mereka nanti bersikap pasrah" (HR. Bukhari, Muslim).&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Hikmah diciptakannya jin dan manusia oleh Allah s.w.t..&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Ibadah adalah hakikat (tauhid), sebab pertentangan yang terjadi antara Rasulullah s.a.w.dengan kaumnya adalah dalam masalah tauhid ini.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Barang siapa yang belum merealisasikan tauhid ini dalam hidupnya, maka ia belum beribadah (menghamba) kepada Allah s.w.t.. inilah sebenarnya makna firman Allah: “Dan sekali-kali kamu sekalian bukanlah penyembah (Tuhan) yang aku sembah” (QS. Al Kafirun/109: 3)&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Hikmah diutusnya para Rasul[adalah untuk menyeru kepada tauhid, dan melarang kemusyrikan].&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Misi diutusnya para Rasul itu untuk seluruh umat.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Ajaran para Nabi adalah satu, iaitu tauhid [mengesakan Allah s.w.t. saja].&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Masalah yang sangat penting adalah: bahawa ibadah kepada Allah s.w.t. tidak akan terealisasi dengan benar kecuali dengan adanya pengingkaran terhadap thoghut.&lt;br /&gt;Dan inilah maksud dari firman Allah s.w.t.: “Barang siapa yang mengingkari thoghut dan beriman kepada Allah, maka ia benar benar telah berpegang teguh kepada tali yang paling kuat” (QS. Al Baqarah/2: 256).&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Pengertian thoghut bersifat umum, mencakup semua yang diagungkan selain Allah s.w.t..&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Ketiga ayat muhkamat yang terdapat dalam surah Al - An'am menurut para ulama salaf penting kedudukannya, di dalamnya ada 10 pelajaran penting, yang pertama adalah larangan berbuat kemusyrikan.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Ayat ayat muhkamat yang terdapat dalam surah Al Isra mengandungi 18 masalah, dimulai dengan firman Allah: “Janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, agar kamu tidak menjadi terhina lagi tercela” (QS. Al Isra'/17: 22).&lt;br /&gt;Dan diakhiri dengan firmanNya: “Dan janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, sehingga kamu (nantinya) dicampakan kedalam neraka jahannam dalam keadaan tercela, dijauhkan (dari rahmat Allah)” (QS. Al Isra'/17:39).&lt;br /&gt;Dan Allah mengingatkan kita pula tentang pentingnya masalah ini, dengan firmanNya: “Itulah sebahagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu” (QS. Al Isra'/17: 39).&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Satu ayat yang terdapat dalam surah An-Nisa', disebutkan didalamnya 10 hak, yang pertama Allah memulainya dengan firmanNya:&lt;br /&gt;“Beribadahlah kamu sekalian kepada Allah (saja), dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (QS. An - Nisa'/4:36).&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Perlu diingat wasiat Rasulullah s.a.w. di saat akhir hayat beliau.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Mengetahui hak hak Allah yang wajib kita laksanakan.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Mengetahui hak hak hamba yang pasti akan dipenuhi oleh Allah apabila mereka malaksanakanya.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Masalah ini tidak diketahui oleh sebahagian basar para sahabat [4].&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Boleh merahasiakan ilmu pengetahuan untuk maslahah.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Dianjurkan untuk menyampaikan berita yang menggembirakan kepada sesama muslim.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Rasulullah s.a.w. merasa khuwatir terhadap sikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Jawapan orang yang ditanya, sedangkan dia tidak mengetahui adalah: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Diperbolehkan memberikan ilmu kepada orang tertentu saja, tanpa yang lain.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Kerendahan hati Rasulullah s.a.w., sehingga beliau hanya naik keledai, serta mahu memboncengkan salah seorang dari sahabatnya.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Boleh memboncengkan seseorang diatas binatang, jika memang binatang itu kuat.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Keutamaan Muadz bin Jabal.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;Tauhid mempunyai kedudukan yang sangat penting.&lt;br /&gt;_____________________________________&lt;br /&gt;Catatan Kaki:&lt;br /&gt;[1] Ibadah ialah penghambaan diri kepada Allah ta'ala dengan mentaati segala perintah Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah saw. Dan inilah hakikat agama Islam, kerana Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada Allah semata, yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada Nya, dengan penuh rasa rendah diri dan cinta.&lt;br /&gt;Ibadah bererti juga segala perkataan dan perbuatan, baik lahir mahupun batin, yang dicintai dan diridloi oleh Allah. Dan suatu amal akan diterima oleh Allah sebagai ibadah apabila diniati dengan ikhlas kerana Allah semata ; dan mengikuti tuntunan Rasulullah saw.&lt;br /&gt;[2] Thoghut ialah : setiap yang diagungkan - selain Allah - dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi ; baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia ataupun syaitan.&lt;br /&gt;Menjauhi thoghut bererti mengingkarinya, tidak menyembah dan memujanya, dalam bentuk dan cara apapun.&lt;br /&gt;[3] Atsar ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Abi Hatim.&lt;br /&gt;[4] Tidak diketahui oleh sebahagian besar para sahabat, kerana Rasulullah menyuruh Muadz agar tidak memberitahukannya kepada meraka, dengan alasan beliau khuwatir kalau mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah. Sehingga tidak mahu berlumba lumba dalam mengerjakan amal soleh. Maka Mu'adz pun tidak memberitahukan masalah tersebut, kecuali di akhir hayatnya dengan rasa berdosa. Oleh sebab itu, di masa hidup Mu'adz masalah ini tidak diketahui oleh kebanyakan sahabat.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kitab Tauhid, Syaikh Muhammmad bin Abdul Wahab Attamimi&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Daru Haq, Cetakan 4-Jakarta. 1999&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Download Kitab Tauhid:&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;a class="normal12blue" href="http://www.ziddu.com/download/5977518/lampiran_10_06_2009.zip.html"&gt;http://www.ziddu.com/download/5977518/lampiran_10_06_2009.zip.html&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://www.pulsagram.com/?id=CC053231"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4798153163355951197-5472728717923091079?l=belajarislam-pras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/feeds/5472728717923091079/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4798153163355951197&amp;postID=5472728717923091079&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/5472728717923091079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/5472728717923091079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/2009/08/tauhid-hakikat-dan-kedudukannya.html' title='Tauhid ( Hakikat dan Kedudukannya )'/><author><name>Pras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03566193034142952335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TF--X6RfBvI/AAAAAAAAAEw/EtWZt7Mav7Q/S220/IMG0053A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4798153163355951197.post-6665927131129363004</id><published>2009-08-06T07:53:00.001+07:00</published><updated>2010-07-20T11:29:05.771+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bulughul maram'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tayamum'/><title type='text'>Tayamum</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:180%;"  &gt;بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Masih didalam Qs. Al-Maidah/5 : 6, Allah Swt memrintahkan kepada hambanya untuk melakukan Tayamum dengan debu yang suci sebagai pengganti bersuci baik berhadts kecil maupun berhadats besar bila tidak mendapatkan air.&lt;br /&gt;Sebagaimana firman Alloh Swt :&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Qs. An-Nissa’/4 : 43.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam Keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam Keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun ”.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Qs. Al-Maidah/5 :6.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;“ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita perhatikan Hadits – hadits yang terdapat dalam Kitab Bulughul Maram dibawah ini :&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Hadits ke-136.&lt;/strong&gt; Dari Jabir Ibnu Abdullah bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku diberi lima hal yang belum pernah diberikan kepad seorang pun sebelumku, yaitu aku ditolong dengan rasa ketakutan (musuhku) sejauh perjalanan sebulan; bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud (masjid) dan alat bersuci, maka siapapun menemui waktu shalat hendaklah ia segera shalat." Muttafaq Alaihi.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Hadits ke-137&lt;/strong&gt;. Dan menurut Hadits Hudzaifah Radliyallaahu 'anhu yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan: "Dan debunya dijadikan bagi kami sebagai alat bersuci." &lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Hadits ke-138.&lt;/strong&gt; Menurut Ahmad dari Ali r.a: Dan dijadikan tanah bagiku sebagai pembersih.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Hadits ke-139&lt;/strong&gt;. Ammar Ibnu Yassir Radliyallaahu 'anhu berkata: Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam telah mengutusku untuk suatu keperluan, lalu aku junub dan tidak mendapatkan air, maka aku bergulingan di atas tanah seperti yang dilakukan binatang, kemudian aku mendatangi Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan menceritakan hal itu padanya. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "sesungguhnya engkau cukup degnan kedua belah tanganmu begini." Lalu beliau menepuk tanah sekali, kemudian mengusapkan tangan kirinya atas tangan kanannya, punggung kedua telapak tangan, dan wajahnya. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Hadits ke-140.&lt;/strong&gt; Dalam suatu riwayat Bukhari disebutkan: Beliau menepuk tanah dengan kedua telapak tangannya dan meniupnya, lalu mengusap wajah dan kedua telapak tangannya.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Hadits ke-141&lt;/strong&gt;. Ibnu Umar Radliyallaahu 'anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tayammum itu dengan dua tepukan. Tepukan untuk muka dan tepukan untuk kedua belah tangan hingga siku-siku." Riwayat Daruquthni dan para Imam Hadits menganggapnya mauquf.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Hadits ke-142.&lt;/strong&gt; Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tanah itu merupakan alat berwudlu bagi orang Islam, meskipun ia tidak menjumpai air hingga sepuluh tahun. Maka jika ia telah mendapatkan air, hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan menggunakan air itu untuk mengusap kulitnya." Diriwayatkan oleh al-Bazzar. Shahih menurut Ibnul Qaththan dan mursal menurut Daruquthni.&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Hadits ke-144.&lt;/strong&gt; Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu 'anhu berkata: Ada dua orang laki-laki keluar bepergian, lalu datanglah waktu shalat sedangkan mereka tidak mempunyai air, maka mereka bertayamum dengan tanah suci dan menunaikan shalat. Kemudian mereka menjumpai air pada waktu itu juga. Lalu salah seorang dari keduanya mengulangi shalat dan wudlu sedang yang lainnya tidak. Kemudian mereka menghadap Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan menceritakan hal itu kepadanya. Maka beliau bersabda kepada orang yang tidak mengulanginya: "Engkau telah melakukan sesuai sunnah dan shalatmu sudah sah bagimu." Dan beliau bersabda kepada yang lainnya: "Engkau mendapatkan pahala dua kali." Riwayat Abu Dawud dan Nasa'i.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Hadits ke-145.&lt;/strong&gt; Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu tentang firman Allah (Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan), beliau mengatakan: "Apabila seseorang mengalami luka-luka di jalan Allah atau terserang penyakit kudis lalu ia junub, tetapi dia takut akan mati jika dia mandi maka bolehlah baginya bertayammum." Riwayat Daruquthni secara mauquf, marfu' menurut al-Bazzar, dan shahih menurut Ibnu Khuzaimah dan Hakim.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;TATACARA TAYAMUM BERDASARKAN AL-QUR’AN DAN HADITS DIATAS &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Tepukkan kedua telapak tangan ketanah /debu 1X.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tiup telapak tangan tersebut 1X.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Usap muka dengan telapak tangan 1X. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Usap tangan kanan sampai dengan pergelangan 1X.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Usap tangan kiri sampai dengan pergelangan 1X. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Selesai.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/SnpYfz5K-1I/AAAAAAAAAAU/J16cwgXGbHs/s1600-h/NVE00011.png"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/SnpYgFYY0jI/AAAAAAAAAAc/9RGj_gH5TCk/s1600-h/NVE00012.png"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;YANG MEMBATALKAN TAYAMUM&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Hadats besar &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hadats kecil &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menemukan air kembali.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Insya Alloh bersambung bab sholat. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;download :&lt;/p&gt;&lt;p&gt;RiyadhusshalihinNawawi.zip&lt;a href="http://www.blogger.com/%20http://www.ziddu.com/download/5926560/RiyadhusshalihinNawawi.zip.html" target="_blank"&gt;http://www.blogger.com/%20http://www.ziddu.com/download/5926560/RiyadhusshalihinNawawi.zip.html&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://www.pulsagram.com/?id=CC053231"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4798153163355951197-6665927131129363004?l=belajarislam-pras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/6665927131129363004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/6665927131129363004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/2009/08/tayamum.html' title='Tayamum'/><author><name>Pras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03566193034142952335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TF--X6RfBvI/AAAAAAAAAEw/EtWZt7Mav7Q/S220/IMG0053A.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4798153163355951197.post-678544514077982869</id><published>2009-08-05T09:38:00.008+07:00</published><updated>2010-07-20T11:29:05.776+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bulughul maram'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wudhu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sholat'/><title type='text'>Wudhu</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:180%;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Perkara sholat adalah perkara yang sangat penting bagi setiap muslim. Sholat tidak terlepas dari syarat sahnya sholat salah satunya adalah Wudhu ( baca bersuci ). Karena Alloh Swt memerintahkan kepada hambanya untuk melakukan bersuci ketika hendak melaksanakan sholat. Bisa kita lihat perintah Alloh Swt didalam &lt;strong&gt;Qs. Al-Maidah/5 : 6&lt;/strong&gt;, yang artinya :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;" Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia&lt;/span&gt; hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur". &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Dan juga sabda Nabi Saw :&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jika engkau hendak mengerjakan shalat maka sempurnakanlah wudlu', lalu bacalah (ayat) al-Quran yang mudah bagimu, lalu ruku'lah hingga engkau tenang (tu'maninah dalam ruku', kemudian bangunlah hingga engkau tegak berdiri, lalu sujudlah hingga engkau tenang dalam sujud, kemudian bangunlah hingga engkau tenang dalam duduk, lalu sujudlah hingga engkau tenang dalam sujud. Lakukanlah hal itu dalam dalam sholatmu seluruhnya." Dikeluarkan oleh Imam Tujuh lafadznya menurut riwayat Bukhari. Menurut Ibnu Majah dengan sanad dari Muslim: "Hingga engkau tenang berdiri." Bulughul maram No.278&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Maka dari itu marilah kita mempelajari Wudhu sebagaimana Rasululloh berwudhu. Mari kita perhatikan hadits-hadits yang terdapat pada Kitab Bulughulmaram karya Imam Ibnu hajar al-asqolani dibawah ini :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;Hadits ke-55.&lt;/strong&gt; Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tidaklah sah wudlu seseorang yang tidak menyebut nama Allah." Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah dengan sanad yang lemah.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;Hadits ke-37.&lt;/strong&gt; Dari Humran bahwa Utsman meminta air wudlu. Ia membasuh kedua telapak tangannya tiga kali, lalu berkumur dan menghisap air dengan hidung dan menghembuskannya keluar, kemudian membasuh wajahnya tiga kali. Lalu membasuh tangan kanannya hingga siku-siku tiga kali dan tangan kirinya pun begitu pula. Kemudian mengusap kepalanya, lalu membasuh kaki kanannya hingga kedua mata kaki tiga kali dan kaki kirinya pun begitu pula. Kemudian ia berkata: Saya melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berwudlu seperti wudlu-ku ini. Muttafaq Alaihi.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;Hadits ke-38&lt;/strong&gt;. Dari Ali Radliyallaahu 'anhu tentang cara berwudlu Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, dia berkata: Beliau mengusap kepalanya satu kali. Dikeluarkan oleh Abu Dawud. Tirmidzi dan Nasa'i juga meriwayatkannya dengan sanad yang shahih, bahkan Tirmidzi menyatakan bahwa ini adalah hadits yang paling shahih pada bab tersebut.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;Hadits ke-39&lt;/strong&gt;. Dari Abdullah Ibnu Zain Ibnu Ashim Radliyallaahu 'anhu tentang cara berwudlu, dia berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengusap kepalanya dengan kedua tangannya dari muka ke belakang dan dari belakang ke muka. Muttafaq Alaihi.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;Hadits ke-40&lt;/strong&gt;. Lafadz lain dalam riwayat Bukhari - Muslim disebutkan: Beliau mulai dari bagian depan kepalanya sehingga mengusapkan kedua tangannya sampai pada tengkuknya, lalu mengembalikan kedua tangannya ke bagian semula.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Hadits ke-41&lt;/strong&gt;. Dari Abdullah Ibnu Amr Radliyallaahu 'anhu tentang cara berwudlu, ia berkata: Kemudian beliau mengusap kepalanya dan memasukkan kedua jari telunjuknya ke dalam kedua telinganya dan mengusap bagian luar kedua telinganya dengan ibu jarinya. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa'i. Ibnu Khuzaimah menggolongkannya hadits shahih.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;ANGGOTA BADAN YANG WAJIB UNTUK DIBASUH&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Bedasarkan Qs. Al-maidah/5:6 anggota badan yang wajib dibasuh dan diusap adalah :&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;Membasuh wajah / muka.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;Membasuh kedua tangan sampai dengan siku.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;Mengusap kepala.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;Membasuh kedua kaki sampai dengan mata kaki.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="left"&gt;ANGGOTA BADAN YANG WAJIB DAN SUNNAH UNTUK DIBASUH &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="left"&gt;Berdasarkan Qs.Al-maidah/5;6 dan hadits-hadits diatas, anggota badan yang dibasuh dan diusap adalah :&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;Mencuci telapak tangan 3X&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;Berkumur dan menghirup air dengan hidung dan mengeluarkan air dari hidung 3X.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;Membasuh muka 3X.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;Membasuh tangan kanan sampai dengan siku 3X.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;Membasuh tangan kiri sampai denagan siku 3X.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;Mengusap kepala dari depan digerakkan kebelakang sampai tengkok dan kembali kedepan langsung jari telunjuk masukkan kedalam lubang telinga dan ibu jari mengusap telinga dengan 1X usapan saja.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;Membasuh kaki kanan sampai dengan mata kaki 3X.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;Membasuh kaki kiri sampai dengan mata kaki 3X.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;Selesai.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="left"&gt;Jangan lupa baca doa setelah wudhu dengan doa:&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Artinya :“Aku bersaksi, bahwa tiada Tuhan yang haq kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya. Aku bersaksi, bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya”. HR.Muslim ( Bulughul maram No.62 ).&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="left"&gt;Semoga bermanfaat.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="left"&gt;Insya Alloh bersambung bab tayamum.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4798153163355951197-678544514077982869?l=belajarislam-pras.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/feeds/678544514077982869/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4798153163355951197&amp;postID=678544514077982869&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/678544514077982869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4798153163355951197/posts/default/678544514077982869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://belajarislam-pras.blogspot.com/2009/08/wudhu.html' title='Wudhu'/><author><name>Pras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03566193034142952335</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://4.bp.blogspot.com/_p-KgnjTkvF8/TF--X6RfBvI/AAAAAAAAAEw/EtWZt7Mav7Q/S220/IMG0053A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
