Jumat, 16 Oktober 2009

Dalil-dalil Al-qur'an seputar kemusyrikan

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. ( Qs. 4 : 48 )

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. ( Qs. 4 : 116 )

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. ( Qs. 39 : 65 )

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar". ( Qs. 31 :13 )

ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. ( Qs. 6 : 88 )

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. ( Qs. 6 : 82 )

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. ( Qs. 98 : 2 ).

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu" Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun. ( Qs. 5 : 2 )

وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ يَوْمَ الْحَجِّ الأكْبَرِ أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ فَإِنْ تُبْتُمْ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ غَيْرُ مُعْجِزِي اللَّهِ وَبَشِّرِ الَّذِينَ كَفَرُوا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Dan (inilah) suatu permakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. Kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertobat, maka bertobat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. ( Qs. 9 : 3 )

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam. ( Qs. 9 : 113 )

وَلا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُون

Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. ( Qs. 2 : 221 )

سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ

Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang lalim. ( Qs. 5 : 151 )

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُمْ مَوَدَّةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَى ذَلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لا يَسْتَكْبِرُونَ

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. ( Qs. 5 : 2 )

Insya allah akan bersambung tentang sebab-sebab kemusyrikan berdasarkan dalil / nash al-qur'an.

Ma'raji :

  1. Al-qur'anul Karim.
  2. Modul Ma'had Al-hidayah Cabang Cikande Serang Semester Pertama Oleh Ustd. Abu Bakar Shidiq " Dalil-dalil al-qur'an dan Hadits "

Selasa, 25 Agustus 2009

BAGAIMANAKAH HUKUM I’TIKAF ?

I’tikaf adalah berdiam diri didalam masjid untuk mengkhususkan ketaatan kepada Allah SWT, perbuatan ini disunnahkan untuk mencari malam lailatul qadr, Allah telah mengisyaratkannya didalam Al-qur’an dengan firman-Nya :
وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“ Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid.”
( Qs. Al-Baqarah / 2: 187 ).

Telah diriwayatkan dalam da kitab shahih ( Bikhari dan Muslim ) dan selain keduanya bahwa Nabi SAW melakukan I’tikaf, para shahabat juga beri’tikaf bersama beliau 1 ,I’tikaf tetap disyari’atkan tidak dihapuskan, didalam dua kitab Shahih dari Aisyah dia berkata:

كَا نَ يَعْتَكِفُ اَلعَشْرَ الأَ وَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَ فَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

“ Nabi saw melakukan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan ramadhan sampai Allah Azza wa jalla mewafatkan beliau, kemudian istri-istri beliau melanjutkan sepeninggalnya”2

Dalam kitab shahih Muslim dari Abu Said Al-Khudry Ra.bahwa Nabi saw melakukan i’tikaf sepuluh hari pertama dari Ramadhan, kemudian beri’tikaf pada sepiuluh hari pertengahan kemudian beliau bersabda, “ Sesungguhnya aku beri'tikafpada sepuluh hari pertama karena ingin mencari dan mendapatkan laitul qadr ini lalu aku beri’tikaf lagi pada sepuluh hari pertengahan , lalu aku dating dan dikatakan kepadaku, “ Sesungguhnya dia ( laitul qadr ) ada disepuluh hari yang terakhir maka barangsiapa yamg suka beri’tikaf diantara kalian hendaknya beri’tikaf”3. Lalu para manusia pun beri’tikaf bersama beliau. Imam Ahmad rah berkata “ Saya tidak mengetahui ada satupun ulama yang brselisih bahwa I’tikaf merupakan amalan yang disunnahkan.

Atas dasar ini maka I’tikaf menjadi sunnah berlandaskan ketetapan syari’at dan ijmak ulama.

Tempat pelaksanaannya adalah masjid yang ditegakkan didalamnya jamaah didaerah manapun juga, sesuai dengan keumuman firman Allah swt :

وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid.”

Yang paling baik adalah dilakukan dimasjid yang disitu ditegakkan Sholat Jum’at agar dia tidak perlu keluar untuk menunaikan sholat Jum’at, apabila ia beri’tikaf dimasjid yang tidak dipakai sholat Jum’at maka tidak mengapa dia keluar untuk melaksanakan Sholat jum’at.

Seorang yang beri’tikaf sebaiknya menyibukkan dirinya dengan segala amal ketaatan kepada Allah berupa sholat , membaca Al-Qur’an dan dzikrullah sebab itulah maksud dari I’tikaf, tidak mengapa dia berbincang dengan temannya sebentar, terutama jika perbincangan itu mendatangkan manfaat.

Diharamkan bagi orang yang I’tikaf berjimak dan segala perbuatan yang mengarah kesana.

Adapun mengenai keluarnya orang yang I’tikaf dari masjid, para ahli fiqih membaginya menjadi tiga bagian .

Bagian pertama :

Boleh, yakni keluar untuk yang diharuskan secara syari’at, atau tabiat kemanusiaan, seperti keluar untuk menjalankan sholat jum’at, makan, minum, jika tidak ada orang yang memberinya kedua hal itu, keluaruntuk berwudhu, mandi wajib ( janabat ) dan untuk buang air kecil maupun buang air besar.

Bagian kedua :

Keluar untuk mengerjakan amalan yang tidak wajib seperti menengok orang sakit, menghadiri pengurusan jenazah, jika dia mensyaratkannya diawal I’tikaf maka hal itu boleh dilakukan, jika tidak maka tidak boleh dilakukan.

Bagian ketiga :

Keluar untuk melakukan perbuatan yang melenyapkan amalan I’tikaf seperti pulang kerumah atau tempat berjualan (toko), menyetubuhi istrinya dan hal-hal sejenisnya, ini tidak boleh dilakukan, baik denga syarat sebelumnya maupun tanpa syarat. Allahlah yang Memberi Petunjuk.



Diambil dari :

MAJMU’ FATAWA Syaikh Muhammad bin shalih al –Utsaimin.
Pustaka Arafah, Cetakan 1 : Rabi’ul awwal 1423 H / agustus 2002.


  1. Diriwayatkan oleh Bukhari : Kitab I’tikaf / Bab I’tikaf ( 2036 )

  2. Diriwayatkan oleh Bukhari : Kitab I’tikaf / Bab I’tikaf di sepuluh hari terakhir ( 2026 ), dan Muslim : Kitab I’tikaf / Bab I’tikaf pada sepuluh hari terakhir dibulan ramadhan ( 1172 ).

  3. Ditakhrij oleh Al Bukhari : Kitabul I’tikaf / bab I’tikaf Fiel Ashril awakhir ( 2027 )

Download :



Senin, 24 Agustus 2009

ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA SETIAP MALAM 1

Dan ini seperti sabda Rasulullah Saw :
“Rabb kami turun ke langit dunia ketika tinggal sepertiga malam yang akhir dan berfirman: “ Barang siapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan doanya, barang siapa yang minta akan Aku berikan permintaannya yang memohon ampun akan Aku ampunkan dia.” ( Muttafaq’alaih).2

Hadits ini telah masyhur dalam kitab-kitab shahih, sunnah dan musnad, dan sekarang disepakati tentang diterimanya dan dibenarkannya dikalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahkan diantara kaum Muslimin yang belum dirusak oleh bid’ah, yangmereka mengetahui dengannya tentang keagungan Rabb mereka, luas pemberian-Nya dan perhatian-Nya kepada hamba-Nya, serta penanganan-Nya terhadap semua kebutuhan agama dan dunia hamba-Nya.

Turunnya Allah secara hakikat menurut apa yang Ia kehendaki. Ahlus Sunnah menetapkan tentang turunnya Allah kelangit dunia sebagaimana merka menetapkan seluruh sifat yang telah tetap dalam Al-Qur’an dan As-sunnah. Mereka menahan diri dari menanyakan tentang kaifiatnya, yaitu tidak menyerupakan dengan makhluk-Nya, tidak menafikan ( meniadakan ) sifat-Nya, tidak mengingkari-Nya, dan mereka ( Ahlus Sunnah ) berkata: “ Sesungguhnya Rasulullah tidak mengabarkan kepada kita, bagaimana turun-Nya dan kita mengetahui bahwa Allah itu berbuat apa yang Ia ungunka dan Allah berkuasa atas segala sesuatu.”

Oleh karena itu orang-orang yang termuka dari kaum muslimin, mereka mencari waktu yang mulia ini untuk mendapatkan karunia dan pemberian-Nya, mereka melaksanakan ibadah kepada Allah dengan tunduk dan khusyu’ serta berdoa dengan merendah diri, mengharapkan dari Allah apa yang telah dijanjikan kepada mereka atas lisan Rasul-Nya. Mereka tahu bahwa janji Allah itu benar. Mereka takutdoanya tidak dikabulkan dikarenakan perbuatan dosa dan maksiat yang mereka lakukan .

Mereka menyatukan antara Khauf ( rasa takut ) dan raja’ ( mengharap ) dalam beribadah kepada-Nya Mereka mengetahui kesempurnaan nikmat allah atas mereka sehingga hati mereka penuh denga pengagungan dan keimanan kepada Rabb mereka.

Ringkasan Syarah Kitab Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Pustaka Darul Haq

Penulis : Abul Harits Al-Halabiy Al-Atsari, Ali Hasan Ali Abdul Hamid

Pensyarah : Al-Allamatuusy-Syaikh Abdurrahman bin Nasjir As-Sa’di rah.
( Wafat Th 1376 H )

  1. Penetapan judul dari setiap hadits diambil dari Syarah Al-aqidah Al-wasithiyah, Dr. Shalih Fauzan Syarah Wasithiyah, Said bin Ali bin Wahf al-Qahthani dan Syarah Khalil Haras, tahqiq Saqqaf.
  2. HR. Al-Bukhari no. 1145 dan Muslim no. 758. Dari sahabat Abu Hurairah, dalam bab ini diriwayatkan juga darir beberapa shahabat. Imam Ad-Daruquthni, mengumpulkan hadits-hadits Nuzulul dalam kitab tersendiri. Judulnya Kitabun Nuzul yang ditahqiq oleh Dr. ali bin Nashir Al-Faqihi hafidzahullah. ( hal 49 ).

Download Pdf:

http://www.ziddu.com/download/6179465/Allahturunkelangitdunia.pdf.html

Selasa, 18 Agustus 2009

Sholat

بسم اللّه الرّ حمن الرّ حيم
Firman Alloh Swt:
Artinya : dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah sholat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah (Qs Ar-rum/30:31).
Artinya : Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan sholat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi atau pun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan. ( Qs Ibrahim/14 : 31 ).
Banyak sekali perintah dari Al-qur'an maupun hadist Rasulullah Saw untuk mendirikan Sholat.
Untuk mempelajari tata cara Sholat sebagaimana Nabi SAW silahkan download file-file dibawah ini :
Sholat pdf:
Sifat sholat nabi Syaikh Al-albani rahimahullah :
Semoga bermanfaat.

Senin, 10 Agustus 2009

Tauhid ( Hakikat dan Kedudukannya )

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ



Firman Allah s.w.t.:
“Tidak Aku ciptakan jin dan Manusia melainkan hanya untuk beribadah[1] kepada-Ku.” (QS. Adz -Dzariyat/51 : 56).

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan) "Beribadalah kepada Allah (saja) dan jauhilah thoghut.”[2] (QS. An - Nahl/16: 36).

“Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapamu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (QS. Al - Isra', 23- 24).

“Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmua, iaitu " Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu, dan janganlah kamu membunuh anak anak kamu kerana takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan perbuatan yang keji, baik yang nampak diantaranya mahupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun dia adalah kerabat(mu). Dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. Dan bahawa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), kerana jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al - An'am/6:151- 153).


Ibnu Mas'ud r.a. berkata: "Barang siapa yang ingin melihat wasiat Muhammad s.a.w. yang tertera di atasnya cincin stempel milik beliau, maka supaya membaca firman Allah s.w.t.: "Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, iaitu "Janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepadaNya, dan "Sungguh inilah jalan-Ku berada dalam keadaan lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan yang lain. [3] "

Mu'adz bin Jabal r.a. berkata:
"Aku pernah diboncengkan Nabi s.a.w. di atas keledai, kemudian beliau berkata kepadaku: " wahai muadz, tahukah kamu apakah hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hambaNya, dan apa hak hamba-hambaNya yang pasti dipenuhi oleh Allah?, Aku menjawab: "Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui", kemudian beliau bersabda: "Hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hambaNya ialah hendaknya mereka beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, sedangkan hak hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah ialah bahawa Allah tidak akan menyiksa orang orang yang tidak menyekutukanNya dengan sesuatupun, lalu aku bertanya: ya Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepada orang-orang?, beliau menjawab: "Jangan engkau lakukan itu, kerana khuwatir mereka nanti bersikap pasrah" (HR. Bukhari, Muslim).



Pelajaran penting yang terkandung dalam bab ini:



  1. Hikmah diciptakannya jin dan manusia oleh Allah s.w.t..

  2. Ibadah adalah hakikat (tauhid), sebab pertentangan yang terjadi antara Rasulullah s.a.w.dengan kaumnya adalah dalam masalah tauhid ini.

  3. Barang siapa yang belum merealisasikan tauhid ini dalam hidupnya, maka ia belum beribadah (menghamba) kepada Allah s.w.t.. inilah sebenarnya makna firman Allah: “Dan sekali-kali kamu sekalian bukanlah penyembah (Tuhan) yang aku sembah” (QS. Al Kafirun/109: 3)

  4. Hikmah diutusnya para Rasul[adalah untuk menyeru kepada tauhid, dan melarang kemusyrikan].

  5. Misi diutusnya para Rasul itu untuk seluruh umat.

  6. Ajaran para Nabi adalah satu, iaitu tauhid [mengesakan Allah s.w.t. saja].

  7. Masalah yang sangat penting adalah: bahawa ibadah kepada Allah s.w.t. tidak akan terealisasi dengan benar kecuali dengan adanya pengingkaran terhadap thoghut.
    Dan inilah maksud dari firman Allah s.w.t.: “Barang siapa yang mengingkari thoghut dan beriman kepada Allah, maka ia benar benar telah berpegang teguh kepada tali yang paling kuat” (QS. Al Baqarah/2: 256).

  8. Pengertian thoghut bersifat umum, mencakup semua yang diagungkan selain Allah s.w.t..

  9. Ketiga ayat muhkamat yang terdapat dalam surah Al - An'am menurut para ulama salaf penting kedudukannya, di dalamnya ada 10 pelajaran penting, yang pertama adalah larangan berbuat kemusyrikan.

  10. Ayat ayat muhkamat yang terdapat dalam surah Al Isra mengandungi 18 masalah, dimulai dengan firman Allah: “Janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, agar kamu tidak menjadi terhina lagi tercela” (QS. Al Isra'/17: 22).
    Dan diakhiri dengan firmanNya: “Dan janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, sehingga kamu (nantinya) dicampakan kedalam neraka jahannam dalam keadaan tercela, dijauhkan (dari rahmat Allah)” (QS. Al Isra'/17:39).
    Dan Allah mengingatkan kita pula tentang pentingnya masalah ini, dengan firmanNya: “Itulah sebahagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu” (QS. Al Isra'/17: 39).

  11. Satu ayat yang terdapat dalam surah An-Nisa', disebutkan didalamnya 10 hak, yang pertama Allah memulainya dengan firmanNya:
    “Beribadahlah kamu sekalian kepada Allah (saja), dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (QS. An - Nisa'/4:36).

  12. Perlu diingat wasiat Rasulullah s.a.w. di saat akhir hayat beliau.

  13. Mengetahui hak hak Allah yang wajib kita laksanakan.

  14. Mengetahui hak hak hamba yang pasti akan dipenuhi oleh Allah apabila mereka malaksanakanya.

  15. Masalah ini tidak diketahui oleh sebahagian basar para sahabat [4].

  16. Boleh merahasiakan ilmu pengetahuan untuk maslahah.

  17. Dianjurkan untuk menyampaikan berita yang menggembirakan kepada sesama muslim.

  18. Rasulullah s.a.w. merasa khuwatir terhadap sikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah.

  19. Jawapan orang yang ditanya, sedangkan dia tidak mengetahui adalah: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.

  20. Diperbolehkan memberikan ilmu kepada orang tertentu saja, tanpa yang lain.

  21. Kerendahan hati Rasulullah s.a.w., sehingga beliau hanya naik keledai, serta mahu memboncengkan salah seorang dari sahabatnya.

  22. Boleh memboncengkan seseorang diatas binatang, jika memang binatang itu kuat.

  23. Keutamaan Muadz bin Jabal.

  24. Tauhid mempunyai kedudukan yang sangat penting.
    _____________________________________
    Catatan Kaki:
    [1] Ibadah ialah penghambaan diri kepada Allah ta'ala dengan mentaati segala perintah Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah saw. Dan inilah hakikat agama Islam, kerana Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada Allah semata, yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada Nya, dengan penuh rasa rendah diri dan cinta.
    Ibadah bererti juga segala perkataan dan perbuatan, baik lahir mahupun batin, yang dicintai dan diridloi oleh Allah. Dan suatu amal akan diterima oleh Allah sebagai ibadah apabila diniati dengan ikhlas kerana Allah semata ; dan mengikuti tuntunan Rasulullah saw.
    [2] Thoghut ialah : setiap yang diagungkan - selain Allah - dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi ; baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia ataupun syaitan.
    Menjauhi thoghut bererti mengingkarinya, tidak menyembah dan memujanya, dalam bentuk dan cara apapun.
    [3] Atsar ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Abi Hatim.
    [4] Tidak diketahui oleh sebahagian besar para sahabat, kerana Rasulullah menyuruh Muadz agar tidak memberitahukannya kepada meraka, dengan alasan beliau khuwatir kalau mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah. Sehingga tidak mahu berlumba lumba dalam mengerjakan amal soleh. Maka Mu'adz pun tidak memberitahukan masalah tersebut, kecuali di akhir hayatnya dengan rasa berdosa. Oleh sebab itu, di masa hidup Mu'adz masalah ini tidak diketahui oleh kebanyakan sahabat.


Kitab Tauhid, Syaikh Muhammmad bin Abdul Wahab Attamimi


Daru Haq, Cetakan 4-Jakarta. 1999


Download Kitab Tauhid:


http://www.ziddu.com/download/5977518/lampiran_10_06_2009.zip.html